Selasa, 25 Oktober 2011

KTSP, Silabus, RPP dan Pendidikan Berkarakter

Barusan saya mendapatkan pertanyaaan dan atau permintaan tentang contoh Penyusunan Silabus dan RPP Berkarakter. Saya sendiri agak terkejut, makanan apa lagi ini? wong yang model EEK (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.) saja saya belum sempat praktek membuat RPPnya kok  ini ada yang baru lagi!. Setelah mencari-cari referensi ke beberapa blog, akhirnya ketemu tentang perangkat pembelajaran berkarakter.
Ada berbagai pertanyaan yang muncul saat kita melihat tawuran pelajar atau mahasiswa. Salah satunya adalah, kenapa orang yang berpendidikan kok malah melakukan tindakan yang tidak terdidik? Apa yang salah dengan pendidikan? Jika ada yang salah dengan pendidikan kita, lalu apa solusinya?
Berbagai seminar, kajian, lokakarya, dan penelitian pun dilakukan oleh para pakar untuk menjawab persoalan tersebut. Berbagai pandangan masyarakat umum pun mengemuka. Benang merah yang dapat ditarik dari persoalan tersebut: karena pendidikan mengutamakan angka-angka akademis semata dan meninggalkan akhlak.
Selain itu, juga tidak adanya sinergisitas antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di keluarga. Pendidikan sekolah hanya terjadi di ruang-ruang kelas. Dan selain ruang kelas dirasa bukan ruang pendidikan, akhirnya, pendidikan hanya menempati “pojok” masyarakat kita dan tidak holistik. Pendidikan hanya mengejar angka dan semata menjadi tanggung jawab sekolah. Orangtua yang “memiliki” anak dan hampir 24 jam berinteraksi dengan anaknya, banyak yang merasa tidak perlu mendidiknya di rumah. Benarkah demikian?
Menyadari hal tersebut, dunia pendidikan akhir-akhir ini menyuarakan pendidikan karakter. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pun menyampaikan bahwa Presiden SBY mencanangkan Pendidikan Berbasis Karakter pada 2 Mei 2010. Menyambut itu, penerbit Jaring Pena telah menerbitkan buku Pendidikan Berbasis Karakter; Sinergi antara Sekolah dan Rumah dalam Membentuk Karakter Anak. 
Tiga pilar pendidikan berbasis karakter sebagai pijakannya. Ketiga pilar itu memadukan potensi dasar anak yang selanjutnya bisa dikembangkan. Pilar pertama, membangun watak, kepribadian atau moral. Pilar kedua, mengembangkan kecerdasan majemuk. Pilar ketiga, kebermaknaan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut ditampilkan dalam “rumah karakter” sebagai bangunan pendidikan berbasis karakter yang meliputi pondasi, tiang, dan atap. Agar ketiga pilar itu kokoh dan berjalan dengan baik, maka perlu ada kontrol, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Pilar pertama mengacu pada perilaku (akhlak) yang mulia, misalnya yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Beliau menjadi model atau idola perilaku mulia anak didik, guru, dan orangtua. Pilar kedua mengacu pada prinsip bahwa semua anak itu cerdas. Setiap anak memiliki keunikan dan kecerdasan yang berbeda-beda (multiple intelligence) seperti ditawarkan oleh Prof. Howard Gardner. Kecerdasan masing-masing itulah yang dikembangkan. Ada anak yang cerdas musik, cerdas logik-matematik, cerdas visual-spasial, cerdas kinestetik, cerdas linguistik, cerdas interpersonal, cerdas intrapersonal, dan cerdas natural. Pilar ketiga mengacu pada proses pembelajaran yang bermakna, yaitu yang memberikan nilai manfaat untuk menyiapkan kemandirian anak.
Konsep pendidikan karakter yang digagas juga mensinergikan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Peran orangtua di rumah adalah sama sebagaimana guru di sekolah dalam hal mendidik anak. Kesalingpahaman dan kerjasama dalam mendidik anak menjadi syarat terciptanya pendidikan berbasis karakter. Mengapa? Karena, apalah jadinya jika karakter yang dibangun sekolah diruntuhkan oleh orangtua, atau sebaliknya.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Konsep Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu jug memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.
Kofigurasi Karakter
Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Perangkat pembelajaran “Silabus, RPP, dan KTSP Berkarakter” bertujuan dalam  pelaksanaan, pembinaan dan pengembangan pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran, Guru diharapkan memahami mekanisme pengintegrasian dimensi-dimensi  pendidikan karakter pada mata pelajaran. Dengan pengintegrasian  pendidikan ke dalam mata pelajaran, ke depan secara akumulatif akan terjadi peningkatan mutu pendidikan.
Tiga unsur penting dalam pendidikan karakter adalah keluarga, satuan pendidikan (sekolah), dan masyarakat. Pendidikan yang baik dalam keluarga dan sekolah mestinya didukung lingkungan masyarakat yang baik pula. “Pendidikan dini, termasuk saat anak dalam kandungan dan khususnya dalam keluarga akan memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan karakter anak pada tahap perkembangan kepribadiannya di kemudian hari”, kata Drs Sunaryo M.Pd, pembicara pada sesi pertama.
Menurut Sunaryo, pendidikan karakter memadukan dengan seimbang  empat hal yakni, olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Olah hati bermakna berkata, bersikap, dan berperilaku jujur. Olah pikir, cerdas yang selalu merasa membutuhkan pengetahuan. Olah rasa artinya memiliki cita-cita luhur, dan olah raga maknanya menjaga kesehatan seraya  menggapai cita-cita tersebut. Dengan memadukan secara seimbang keempat anasir kepribadian itu anak akan mampu menghayati dan membatinkan nilai-nilai luhur pendidikan karakter, jelasnya.
Contoh silabus dan RPP berkarakter untuk Bahasa Indonesia dari http://aguswuryanto.wordpress.com/  bisa didownload untuk silabus dan RPP nya. Sedang untuk RPP IPS Berkarakter dari Pak Nurhadi dapat di download disini.
Contoh lain Silabus Berkarakter, Di Sini, RPP Berkarakter Di Sini
Dah untuk mengetahui lebih jelas tentang konsep pendidikan berkarakter dari Kemendiknas dapat didownload disini, sedang untuk mengetahui lebih jauh tugas-tugas oleh pengelola sekolah dapat diambil disini

Sumber: http://www.vilila.com/2010/10/ktsp-silabus-dan-rpp-berkarakter.html#ixzz1bpkDPdbM

Rabu, 19 Oktober 2011

Rangkuman Modul 4 Bahasa Inggris


Modul 4
Telling Time and Telephone Communication

Unit 1
TELLING THE TIME IN MINUTES AND HOURS
Cara mengucapkan angka dalam bahasa Inggris


1 one, 2 two, 3 three, 4 four, 5 five, 6 six, 7 seven, 8 eight, 9 nine, 10 ten, 11 eleven, 12 twelve, 13 thirteen, 14 fourteen, 15 fifteen, 16 sixteen, 17 seventeen, …., 30 thirty, 31 thirty-one, …, 40 forty, 41 forty-one, …, 50 fifty, 51 fifty-one, …, 60 sixty, 61 sixty-one, …, 100 a hundred, 101 a hundred and one, 127 a hundred and twenty-seven.
 








2. TELLING TIMES
Dalam sub pokok bahasan ini akan dibahas cara menanyakan waktu.
Contoh Pertanyaan yang digunakan :
1.       What  time is it ?
2.       Excuse me, what time is it ?
3.       Excuse me, what is the time, please?
4.       What time do you have, Linda ?
Question Word            Auxiliry                     Subject                   Verb             Object/Adverb

What time                    is                                   it
What time                    do                                 you                        get up
What                             is                                   the time
What time                    does                              the class              begin ?
Untuk menjawab pertanyaan tentang waktu, harus dapat mengungkapkan waktu atau menyatakan waktu.
Dalam bahasa inggris untuk menyatakan waktu dilakukan dengan kata “If” baik itu menyatakan jam, tanggal maupun hari. Artinya jika anda menyatakan waktu, tanggal maupun hari dalam bentuk pernyataan atau statement selalu diawali dengan kata “It” sebagai subjek kalimat.
Contoh
1.       It is ten o’clock                                  (10:00)
2.       It is seven o’clock                             (07:00)
3.       It is a quarter  past ten                   (10:15)
4.       It is ten past eight                            (08:10)
5.       It is a quarter to eleven                 (10:45)
6.       It is five to nine                                 ( 08:55)
7.       It is half past six                                                (06:30)
Dari contoh tersebut kiranya jelas bahwa pengungkapan waktu diawali dengan It sebagai subjek kalimat, lalu diikuti predikat is, sebutkan waktu yang dimaksud.


Mari kita perhatikan
Minute                 = menit                                                Time      = waktu
What time           = jam berapa                     half        = setengah
A quarter             = seperempat                   past       = lebih
To                           = kurang             
Preposition :
At  = digunakan untuk menyatakan waktu
On = menyatakan hari dan tanggal
In = menyatakan bulan, period of time

Pertanyaan : What Time is It ?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut :
1.      Jika kebetulan waktunya menunjukan tepat, misalnya jam tujuh tepat, jam delapan tepat atau jam Sembilan tepat maka anda akan mengungkapkan dengan cara :
Jawab :
It is seven o’clock
It is eight o’clock
It is Nine o’clock
2.      Jika kebetulan waktu menunjukan lebihnya seperempat jam, misalnya jam enam seperempat, jam tujuh seperempat, jam Sembilan seperempat. Maka anda akan mengungkapkan dengan cara :
Jawab :
It is a quarter pas six
It is a quarter pas seven
It is a quarter pas nine
3.      Jika kebetulan waktu menunjukan kurang dari jam yang dimaksud. Misalnya jam sepuluh kurang dua puluh menit, jam 10 kurang seperempat, atau jam Sembilan kurang sepuluh menit maka anda akan mengungkapkan dengan cara :
Jawab :
It is twenty to ten
It is a quarter to ten
It is ten to eight
4.      Ada cara lain yang tidak menggunakan kata “past” atau “to” dalam menyatakan lebih dan kurang, misalnya jam sepuluh lebih lima puluh, jam tujuh lebih tiga puluh, atau jam Sembilan lebih empat puluh lima, maka anda akan mengungkapkan dengan cara lain yaitu :
it is ten fifty
it is seven thirty
it is nine forty-five
Preposition :
At digunakan sebelum keterangan waktu :
Contoh : at nine o’clock, at half past eight, at ten to nine, at night
On digunakan sebelum keterangan hari atau tanggal
Contoh : on Monday, on the first of December
In digunakan sebelum keterangan bulan, tahun atau period of time ( the morning, the afternoon, the evening)
Contoh : in December
In january
In the morning
In 1975
In 2006

Formative test 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat  !
1.      X : …………………………… ?
Y : It is seven o’clock now
A. What is it the time ?
B. What time is it ?
C. What times is it ?
D. what does the time ?
2.      X : …………………………… ?
Y : No it isn’t. it is quarter past eight ?
A.      Is it quarter to eight now
B.      Is it quarter to seven now
C.      It is quarter past eight now
D.     It is quarter past seven now
3.      X : What the time, please
Y : it is …..            (06:25)
A. six past twenty five
B. twenty five past six
C. Twenty five to six
D. six to twenty five
4.      It is eight to nine  = ….
A. 8:09
B. 9:08
C. 8:52
D. 9;09
5.      It is twenty – six to seven = …
A. 7:34
B. 26:07
C. 20:06
D. 20:07

6.      It seventeen past nine = …
A. 9:17
B. 17:09
C. 8:43
D. 9:43
7.      Which one is right ?
A. it is half to seven ?
B. is it  half to seven ?
C. it is half before seven ?
D. is it half past seven ?
8.      What time  …. Your father go to work /
A. is
B. are
C. does
D. do
9.      I ussualy get up …. Six o’clock ….. Sunday
A. at – on
B. on – at
C. in – at
D. at – in

10.  The bus arrives …. A quarter past ten  and departs …. Half past eleven
A. on – at
B. on-on
C. at – at
D. in - in












UNIT 2
IDENTITY PERIODE OF TIME IN DAYS, MONTHS, YEARS AND SEASONS

A.     MENANYAKAN DAN MENYATAKAN HARI DALAM BAHASA INGGRIS
Untuk menanyakan hari ada dua cara yaitu :
a.      Dengan pertanyaan “ What is the day ?”
b.      Dengan kata Tanya “ What day “ (hari apa) lalu diikuti waktu yang dimaksud. Misalnya today, tomorrow, yesterday, atau waktu kegiatan yang terkait dengan hari yang dimaksud :
1 . what day is today ?
2. what day is it now ?
3. what day do you teach English ?
c.       Bagaimana jika akan menyatakan hari minggu dalam bahasa inggris ? apakah cukup  dengan mengatakan “Sunday ?”.  untuk menyatakan waktu selalu didahului dengan kata “It”. Dengan demikian untuk menyatakan hari dengan cara sebagai berikut :
It is Sunday
It is Saturday
It is Wednesday
B.      MENANYAKAN DAN MENYATAKAN TANGGAL, BULAN DAN TAHUN
1.      Menanyakan dan menyatakan tanggal, untuk menyatakan tanggal menggunakan bilangan pertama, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Sehingga untuk menyatakan satu menggunakan “first” bukan “one”
1. First                                     ( 1st)
2. Second                     (2nd)
3. Third                        (3rd)    
4. Fourth                      (4th)
5. Fifth                         (5th)
6. Sixth                                    (6th)
7. Seven                       (7th)
Untuk menanyakan tanggal dapat dilakukan dengan pertanyaan “ What is the date … ?, titik-titik dapat diisi dengan today, tomorrow. Disamping itu penulisan dapat diawali dengan What date (tanggal berapa) lalu diikuti waktu misalnya : today, now.
Jika diikuti kegiatan atau peristiwa yang terkait dengan hari yang ditanya maka kata bantu menyesuaikan.
Contoh ;
1.      What date is your birth dateday?
2.      What date did you see her for the first time /
3.      What date do you celebrate your birthday?
2.      Seperti halnya dalam menyatakan waktu, menyatakan tanggal juga dimulai dengan kata “It” sebagai objek kalimat. Jika tidak menggunakan kata “it” maka dapat menggunakan waktu yang dimaksud, misalnya today, now, tomorrow. Jika menggunakan kegiatan yang dimaksud maka dapat disebutkan kegiatannya, misalnya my birthday is on the first of August. Untuk menyatakan tanggal dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, pertama dengan tanggalnya terlebih dahulu :
Contoh : Tanggal 8 january 1987 = it is the eight of January Nineteen eigthty-seven.
Yang kedua dengan bulan dulu yang diungkapkan baru tanggalnya :
Contoh : tanggal January 8, 1987 = Today is January the eighth.




Cara 1
Cara 2
Today is the first of November
It is the second of April
Today is the third of may
Today is the seventh of January
It is the twentieth of February
It is the twenty-third of December
Today is the twenty-first of August
It is November the first
It is April the second
It is may the third
It is January the seventh
It is February the twentieth
It is December the twentieth-third
It is August the twenty-first

3.      Jika tanggal tersebut digunakan dalam bentuk kalimat, preposition yang digunakan adalah “On”, contoh :
My father started to work in the office on the second of January, nineteen seventy-two
C.      MENANYAKAN DAN MENYATAKAN BULAN
Untuk menanyakan bulan dapat dimulai dengan menggunakan kata Tanya “ What Month”. Menggunakan what karena nama bulan adalah benda, sehingga kata Tanya what yang digunakan. Akan tetapi jika bulan difungsikan sebagai keterangan waktu maka kata Tanya yang digunakan adalah “When”
Contoh :
Asep S        : What Month is this ?
Hendra      : This is October
Rudy          : what month is your birthday ?
Mery         : it is in June
D.     MENYATAKAN TAHUN
Untuk menanyakan tahun dimulai dengan kata Tanya “What” karena yang dimaksud adalah tahun maka kata Tanya menjadi “What Year”
Contoh :
X : What year is it now ?
Y : it is 2007
X : When Were you born ?
Y : I was born in 1975
E.      MENANYAKAN DAN MENYATAKAN MUSIM DAN CUACA
How is the weather today ?
Adalah salah satu jenis pertanyaan untuk menanyakan keadaan cuaca.
Untuk menanyakan keadaan cuaca berikut contoh ekspresi dalam menanyakan keadaan cuaca :
1.      What is the weather like ?
2.      What is the weather like today ?
3.      How is the weather today ?
Kemudian untuk menyatakan keadaan cuaca atau musim, seperti yang telah dipelajari pada Unit 1, yaitu menggunakan “It” pada awal kalimat, contoh :
1.      It is cool today
2.      It is going to rain
3.      It is hot now, would you open the window ?









FORMATIVE TEST 2
PILIHLAH JAWABAN YANG PALING TEPAT !

1.      If it is Wednesday now, it will be …. Tomorrow.
A.      Friday
B.      Tuesday
C.      Thursday
D.     Saturday
2.      X :  …………………………….. ?
Y : it is Sunday.
A. what is today
B. what is the day
C. what is it the day
D. what the day is
3.      X : What  day is today ?
Y : …………………………
A. it saturday
B. it Saturday is
C. it is saturday
D. Saturday it is
4.      Which one is right ?
A. it is December five
B. it is the fifth of Desember
C. it is five of December
D. It is December thie five
5.      How Do you Say in English (26-mei-1998)
A.    it is the twenty-sixth of my nineteen ninety-eight
B.    it is the may of nineteen ninety-eight twenty-sixth
C.    it is nineteen ninety-eight of may twenty sixth
D.   it is the may twenty-six nineteen ninety-eight
the following dialogue for question  number 6-7
Wahyu : Excuse me, bill. What’s the date today ?
Budi   : I really don’t know. What month is this ?
Wahyu : this Is June. But I don’t know what the date is
Budi  : I believe it’s the ninth or the tenth of June
Wahyu : it must be June 9. What year is this ?
Budi : I know year it is. This is nineteen sixty-six

6.      John doesn’t know about ….
A.      the date
B.      month
C.      year
D.     time
7.      what year is in the dialogue ?
A.      1966
B.      1976
C.      1977
D.     1986
8.      X  : …………………………..?
Y  : this is July
A. what is the month
B. what month is
C. what month is this
D. is it July Now.
9.      X : ……………………………. ?
     Y : this is nine teen thirty seven
A.      What year is this
B.      What is the year
C.      What year it is
D.     What year this is
10.  The sky looks darker and darker. It is going to ….
A.   Rain
B.   Rainy
C.   Cold
D.   Be hot