Senin, 29 Desember 2008

DUKAKU PALESTINAKU

Siapa yang tidak terhenyak dengan peristiwa yang menimpa Palestina, di tengah tatanan kehidupan dunia yang ingin diciptakan adalah perdamaian, kemerdekaan manusia yang merupakan hak azasi tertinggi yang dimiliki manusia. dunia kini sedang menonton kebiadaban negara yang kecil tapi punya pengaruh yang besar di amerika. anak-anak kecil sudah dihadapkan pada perjuangan untuk merdeka. padahal Allah menurunkan mereka ke dunia untuk memiliki hak hidup yang merdeka. senjata pemusnah masal di tembakan membabi buta sehingga nyawa-nyawa lepas dari tubuh, seperti debu yang terbang ditiup angin. kalau yang menjadi korban adalah orang-orang yang seiman dengan mereka satu saja reaksinya luar biasa. Tapi kita lihat bersama yang korban sudah ratusan bahkan banyak anak-anak dan wanita yang jadi korban, Amerika hanya menyarankan Hamas yang harus menghentikan aksinya. Sungguh ironis ! dimana letak kemanusiaannya. Negara yang selalu ikut campur tangan urusan Timur Tengah, tapi jika yang menjadi korbannya adalah masyarakat muslim, seakan mereka sengaja menutup mata, telinga. Wahai Amerika, wahai Obama tidakah anda rasakan penderitaan rakyat Palestina, Mereka tidak menuntut apapun selain ingin merdeka, kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Wahai PBB... tidak cukup dengan mengecam karena Israel sudah Tuli, Buta. mereka punya mata tapi tidak pernah melihat, mereka punya hati tapi hati mereka adalah batu, mereka punya telinga tapi telinga mereka sudah tidak berfungsi. Negara Arab apakah anda tidak membaca apa kata Rasulullah Terhadap muslim yang tidak mau tahu urusan saudara seimannya ?. Akankah engkau hidup dalam kesenangan sedangkan saudara kita di Palestina anak-anak yang menderita, wanitanya menderita. rumah mereka hancur, mereka tidak tahu harus bermalam dimana ?. Saudaraku tengoklah mereka ..., perhatikanlah mereka..., yakinilah kita mau tidak mau pasti akan mati dan menghadap ALLAH SWT, apa yang akan kita pertanggung jawabkan kepada Allah kalau saudara palestina kita mengadukan kita sebagai saudaranya tidak pernah memperhatikan mereka, membiarkan mereka. Alasan apa yang akan kita sampaikan kepada Allah.... Ya Allah lindungi saudara kami bangsa Palestina, kuatkan mereka dalam menghadapi ujian ini, Ya Allah jadikan mereka yang meninggal jadi para mujahid yang syahid/syahidah engkau tempatkan mereka di tempat yang mulia. Ya Allah berikan ujian /peringatan kepada Israel Laknatullah dengan ujian yang diterima saudara kami bangsa Palestina. Ya Allah Jangan engkau biarkan mereka merajalela menghancurkan bangsa yang selalu menyembahmu, yang selalu mengagungkanmu, Hancurkan Israel Laknatullah, mereka selalu menjadi bibit kerusakan dimuka bumi ini.

Selasa, 23 Desember 2008

Membangun Semangat Jihad Yang Benar !

Salah satu hal penting dalam memajukan masyarakat ialah pembentukan
pusat-pusat pendidikan sumber daya manusia, dengan mendirikan pusat-pusat
pendidikan ini diharapkan ada kemajuan jangka panjang. Sejak zaman
pertengahan, ialah abad XV : negara-negara Eropa mendirikan pusat pendidikan
antara lain universitas Cambridge dan Oxford yang sangat terkenal di
Inggris. Di Jerman universitas-universitas terus berkembang antara lain
pendidikan kedokteran di Heidelberg, pendidikan teknik di Aachen, Hamburg,
Berlin, Darmstadt , Stutgarth dan sebagainya. Di Belanda ada universitas
terkenal seperti Delft, Utrecht, Eindhoven, Rotterdaam, Amsterdam dan
seterusnya, Amerika memiliki pusat-pusat pendidikan dengan spesialisasi
masing-masing. John Hopkins yang terkenal sebagai tempat pendidikan Ilmu
Kedokteran, MIT sebagai tempat pendidikan Teknologi, California Institute of
Technology terkenal sebagai tempat pendidikan Teknologi, Stanford
University, Harvard, Columbia, Northwestern, Princeton, dan masih ratusan
pusat pendidikan berbagai ilmu. Universitas tersebut berkembang selama
ratusan tahun dan pembentukannya bertahap dengan sumbangan-sumbangan yang
mencapai ratusan bahkan milyaran US $. Ada orang sederhana menyumbangkan
sebagian kekayaan yang jumlahnya mencapai US $ 300 juta, kemudian ada
jutawan yang menyumbangkan US $ 1 milyar untuk mengembangkan pendidikan bagi
bangsanya dan bagi umat lainnya. Luar biasa besarnya dana yang terakumulasi
bagi dunia pendidikan didunia Barat tersebut dan hal tersebut yang
menyebabkan dunia Barat sangat maju melebihi kemajuan dunia Timur. Bill
Gates total telah menyumbangkan jumlah US $ 10 milyar selama bertahun-tahun
keberbagai yayasan pendidikan, ilmu pengetahuan, kedokteran dan sebagainya.

Kenapa hal ini selalu penulis singgung ? Tak lain tujuannya ialah
membangkitkan semangat JIHAD dalam pembangunan Sumber Daya Manusia.
Bagaimana menuju kemakmuran tanpa dunia pendidikan yang memadai ? Kenapa
masyarakat Afganistan begitu saja dikuasai oleh suatu rezim yang terbelakang
? Sebabnya ialah masih kurangnya pendidikan dan sempitnya SDM sehingga
penguasa saja banyak yang buta hurup. Hakim-hakim dalam pengadilan agama tak
memiliki pengetahuan yang memadai dan mereka cuma menafsirkan berdasarkan
penafsiran Al Qur’an dalam melaksanakan hukum Islam dan sebenarnya tidak ada
standard, tak ada sistim dan hal ini memungkinkan kesewenang-wenangan.
Keadaan demikian mendekati keadaan di Indonesia dimana pendidikan kurang dan
kekuasaan agama seringkali disalah artikan. Bahkan pengguna internet yang
seharusnya berpikir modern malah sering terjebak pada suatu kondisi
permusuhan, kondisi fitnah memfitnah, dan tak ada kemampuan moral dalam
menjalankan agama. Seringkali masalah yang seharusnya dianalisa dengan ilmu
pengetahuan, malah dipakai analisa berdasarkan ayat-ayat yang hasilnya salah
kaprah. Agama adalah kepercayaan dan bukan ilmu pengetahuan, percaya atau
tidak dan kalau sudah digunakan analisa dan pemikiran , namanya bukan lagi
agama ; ia menjadi Ilmu Pengetahuan dan jelas kurang cocok. Agama adalah
iman yang harus didalami dengan pemikiran positip. Tak mungkin mendalami
agama Islam dengan menganalisa agama Kristen misalnya atau mendalami agama
Kristen tetapi dengan analisa negatip terhadap agama Islam. Pada pokoknya
kepercayaan agama bertujuan baik, kalau ada penyelewengan dan tujuannya
diarahkan kepermusuhan misalnya: ini sudah bertentangan dengan agama. Tak
mungkin agama yang benar digunakan untuk fitnah memfitnah atau menyalahkan,
apalagi baku bunuh: ini adalah pantangan agama !

Kenapa ada kesalahan dalam pembentukan pusat Jihad ? Sebab membangun sesuatu
yang positip seperti pusat ilmu pengetahuan membutuhkan bertahun-tahun
bahkan puluhan sampai ratusan tahun. Sedangkan membentuk pusat Jihad yang
keliru seperti Al Qaeda tak perlu ratusan tahun. Dalam waktu singkat sudah
dapat dibentuk pusat pelatihan jihad dengan bom-bom bunuh diri dan
perekrutan guru-guru cukup “orang berani” yang salah pengarahannya. Dana
yang dibutuhkan relatip tak terlalu besar, bandingkan dengan aset
Universitas Harvard yang mencapai milyaran US $. Universitas yang bagus
tumbuh ratusan tahun, sedangkan pusat teror cukup dibentuk dalam waktu 3
sampai 5 tahun dengan dana jutaan US $, tak perlu milyaran US $.
Pengajar-pengajar universitas memerlukan pendidikan bertahun-tahun untuk
mencapai tingkat Profesor, sedangkan pendidikan teroris cuma bersyarat mampu
dilatih menggunakan senjata-senjata dan latihan ini relatip sangat singkat
dan tak membutuhkan otak-otak yang cerdas dengan IQ yang tinggi. Jadi bukan
IQ tinggi yang dibutuhkan, tetapi cukup FANATISME atau sikap ideologi
FUNDAMENTALISME atau TALIBANISME. Tujuannya adalah PENGHANCURAN , sedangkan
Universitas mendidik orang untuk tujuan PEMBANGUNAN dan bukannya
RUSAK-RUSAKAN seperti kelompok fundamentalis yang mengartikan jihad sebagai
menubrukkan kapal terbang. Sekali lagi kita sitir kata-kata Izad Majeed : “
Jihad bukan berarti menubrukkan pesawat terbang, jihad yang benar ialah
membuat pesawat terbang dan tentunya dengan kerja keras. “

6 Januari 2002

Menjadi Hamba yang Semangat

Oleh KH. Mohammad Jamaluddin Ahmad

Pengasuh Pesantren Al-Muhibbib Tambak Beras Jombang

Dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah SWT. itu akan menapaki jenjang tahapan tahapan sebagai berikut:
1. Tahapan 'abid yaitu orang yang beribadah kepada Allah SWT. dengan tujuan ingin masuk surga dan selamat dari siksa neraka.
2. Tahapan mukhlis yaitu orang yang beribadah hanya semata mata karena Allah SWT. bukan karena ingin masuk surga, ataupun selamat dari neraka.
3. Tahapan muhib yaitu orang yang cinta kepad Allah SWT.
4. Tahapan 'Arif yaitu orang yang ma'rifat kepada Allah SWT.

Dalam perjalanan tahap muhib menuju ke tahapan 'Arif seseorang akan mengalami empat tahapan tajally (kesadaran terdalam setiap individu untuk merasakan keberadaan kekuasaan Allah SWT. yang ada di dalam hati):
1.Tajalli 'Af'al
2. Taialli Sifat
3. Tajalli Asma'
4. Tajalli Dzat

Apabila ia telah sampai pada tahapan tajalli dzat. maka berarti ia tengah berada pada maqom 'Arifin (ahli ma'rifat). Perjalanan menuju Allah SWT. itu memang membutuhkan waktu yang sangat lama sekali lebih lebih bagi hati yang kurang bersih, tergantung kadar serta usaha seseorang dalam penyucian hatinya. Karena beragamnya kondisi atau watak hati manusia, Imam Ibnu 'Athoillah menggambarkan hati itu seperti "Tanah" :
1. Adakalanya tanah yang digali sedikit saja, sudah bisa keluar mata airnya. Ini adalah gambaran bagi hati seorang yang bersih.
2. Adakalanya tanah yang digali sampai dalam, tapi tetap saja tidak keluar mata aimya, karena kondisi tanahnya yang tandus, gersang dan berbatu. Hal ini adalah gambaran hati yang kurang bersih.

Tanah yang tandus, sebagaimana hati kita umumnya membutuhkan siraman dan harus diisi dengan air yang berasal dari sumber mata air yang lain, agar tetap terawat dan subur. Sebab apabila tidak diisi, maka tanah tersebut akan gersang selamanya. Begitu pula hati orang yang kurang bersih, harus diisi dengan cara mengikuti pengajian, majlis ta'lim dan siraman rohani lainnya. Apabila tidak demikian, maka perjalannya menuju Allah SWT. akan sulit, bahkan dapat tersesat. Disinilah pentingnya peranan seorang Guru Mursyid yang awas mata bathin-nya, untuk membimbing dalam perjalanan spiritual agar kita tidak tersesat. Dan berhati hatilah apabila akan mengisi. Carilah sumber air yang bersih, jangan sampai diisi dengan air kotor dan keruh. Begitu pula dalam mengisi hati, lihatlah dulu siapa yang mengaji dan apa alirannya, jauhilah aliran bid'ah (ahli bid'ah), sebab itu akan menambah rusaknya hati. Pilihlah aliran yang mengikuti Ahlis Sunnah Wal Jama'ah, aliran thoriqoh mu'tabaroh. Juga lihat dulu kitab apa yang dikajinya, kitab Mujarrobat kah? atau kitab kitab kema'rifatan yang tidak mu'tabar (kitab kitab yang kebenaran ajarannya tidak diakui oleh para 'Ulama), yang menyebabkan perjalanan kita nanti akan tersesat bahkan bisa membuat gila atau stres.

Ketahuilah, bahwa proses suluk dan wushul kepada Allah SWT. itu ada ilmunya dan harus dibimbing oleh seorang Guru (mursyid kamil). Seperti yang telah di ungkapkan oleh syekh Abdul wahab Asy Sya'roni didalam kitab "Al 'Uhud Al Muhammadiyyah: "Barang siapa yang tidak berguru, maka gurunya adalah syaitan".

Dan syekh Abu Yazid Al Busthomi berkata: "Barang siapa yang tidak mempuyai guru, maka gurunya adalah Syaitan."

Kebanyakan orang yang stres dalam mencari kema'rifatan, disebabkan oleh tidak adanya guru yang membimbing (Mursyid Kamil) atau terkadang punya guru akan tetapi salah niat. Dalam Kitab Ummul al Barohain karangan Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi menyebutkan syarat seorang yang patut sebagai Guru kamil yaitu:
Pertama, Orang yang dikokohkan dengan cahaya mata hati oleh Allah,
Kedua, Hatinya yang zuhud dari "dunia",
Ketiga, Belas kasih kepada orang miskin,
Keempat, Belas kasih kepada sesama mukmin yang lemah.

Orang yang menempuh perjalanan menuju Allah SWT akan menghadapi tahapan tahapan nafsu dan tahapan tahapan maqom. Ada tujuh macam nafsu dengan berbagai ciri masing masing, tahapan nafsu yang paling bawah adalah Nafsu Ammarah. Tanda atau perangai (watak kepribadian orang yang bernafsu ini banyak sekali diantaranya adalah sifat riya', pemarah, dsb. Kesemua sifat yang tercela (al Akhlaq Madzmumah) itu harus diperangi dan diriyadlohi (dilatih). Proses ini dinamakan "Takholli", yaitu merubah sifat sifat tercela menjadi sifat yang terpuji atau al Akhlaq al Mahmudah. Sehingga yang asalnya kikir bisa rnenjadi dermawan, yang riya' menjadi ikhlas, yang asal pemarah menjadi penyabar, yang asalnya sombong menjadi tawadlu'.

Kesemuanya itu dilatih dengan sungguh sungguh untuk dapat meningkat ke tahapan nafsu selanjutnya yang lebih tinggi yaitu Nafsu Lawwamah. Begitu pula halnya sifat sifat nafsu lawwamah yang buruk itu harus dilatih agar menjadi sifat yang terpuji sehingga meningkat lagi menuju Nafsu Muthma'innah dan begitu seterusnya sampai ke tingkat Nafsu Rodliyah atau Mardliyah.

Masa masa yang sangat berat dan berbahaya, adalah ketika seseorang tengah mecapai Nafsu Mulhimah, sebab ia diberi "ketersingkapan" (Mukasyafah) oleh Alloh SWT., sehingga ia diberi kemampuan untuk mengetahui hal hal yang bersifat ghoib, mengetahui kehendak hati orang lain, serta dapat menyibak sesuatu yang akan terjadi.

Kesemuanya itu adalah hal hal yang sangat rahasia dan sangat berbahaya, ia tidak boleh sembrono bahkan harus meniti diri dengan misalnya; konsultasi kepada Guru (mursyid karnil), sebab Mukasyafah itu ada kalanya:
1. Yang berasal dari Allah SWT. yang disebut Warid Robbany
2. Yang berasal dari Malaikat yang disebut Warid Malaki
3. Yang berasal dari Syaiton yang disebut Warid Syaitoni
4. Yang berasal dari Jin yang disebut dengan Warid Jinny
5. Yang berasal dari Nafsu yang disebut dengan Warid Nafsu

Dikatakan bahaya karena orang yang pada tahap Nafsu Mulhimmah itu belum bisa membedakan antara warid-warid yang datang, apakah itu Warid Robbany, Malaki, Syaitoni, Jinni, atau Nafsy. Sehingga orang tersebut tidak diperbolehkan untuk menggunakan Warid yang diberikan kepadanya sebelum dicocokkan dengan syari'at (Al Qur'an dan Al Hadits ).

Dibanding orang yang jarang atau tidak pernah susah, orang yang diliputi kegelisahan (dalam pengertian di atas) itu lebih cepat sampai pada tujuan, yaitu wushul. Sebab, secara psikis, kesusahan itu akan menjadi suatu pendorong yang memungkinkan seseorang untuk lebih memacu dirinya dan lebih bersemangat, melebihi jauh umumnya manusia, dalam menernpuh suatu perjalanan.

Jika diukur, seperti ilustrasi Abu Ali ad Daqqaq di atas, orang yang sedih memerlukan waktu satu bulan untuk menempuh perjalanan menuju Allah SWT. sedangkan orang yang tiada diliputi susah membutuhkan waktu bertahun tahun.

Misalnya, dua orang yang sama berangkat ke Jombang dengan jalan kaki, yang satu dalam kondisinya yang gelisah dan susah karena mendengar kabar lbunya meninggal, sedang yang lain tidak. Dapat dibuktikan, tentu orang pertama yang dalam kegelisahan dan susah akan tiba lebih awal. Karena kondisi hatinya yang demikian (bayangan dalam hatinya hanya ada rumah dan ingin segera melihat ibunya yang terakhir kali) akan memacu dirinya untuk berjalan lebih cepat sampai, dan membuat ia tak sempat menikmati pemandangan di kanan kirinya, berhenti atau mampir. Berbeda dengan orang yang tidak dalam kesedihan orang pertarna, ia akan bedalan semaunya dengan biasa dan santai, sebab tidak ada sesuatu yang memaksa dan mendorong dirinya untuk tiba lebih cepat di Jombang. Begitu juga perjalanan menuju Allah SWT. Kegelisahan yang tumbuh dari kesadaran akan kekurangan diri, akan mampu menjadi pendorong dan "pecut" yang memacu langkah mengejar ketertinggalan, pada akhirnya akan sampai tujuan yang diharapkan dan inilah hakikat penyesalan.

Dalam Kitab syarah Al Hikam di sebutkan, bahwa: Robi'ah Al Adawiyyah, mendengar ada seorang pria berkata: "Alangkah sedihnya diriku". Robi'ah berkata: "Jangan berkata begitu, tetapi katakanlah "Alangkah sedikitnya rasa sedihku". Karena, Jika memang engkau benar benar sedih, itu berarti engkau sama sekali tidak punya kesempatan untuk bersenang senang". (padahal engkau masih bisa tertawa bebas setiap hari).

Kesedihan yang dimaksud disini adalah kesedihan yang ditimbulkan karena keteledoran dalam beribadah, bukan karena memikirkan masalah duniawi, karena Allah SWT. telah menentukan dan mencukupi rizki manusia. Susah karena dunia artinya, susah memikirkan betapa sulitnya mendapatkan harta dunia, dimana dengan kesulitan itu diberi imbalan oleh Allah SWT. berupa dileburnya dosa. Sebab, ada dosa dosa tertentu yang tidak bisa dilebur dengan amal apapun, kecuali dengan susah dan jerih payah dalam mencari nafkah untuk keluarga, dengan catatan adanya keikhlasan di dalam hati.

Jadi, intinya adalah kita semua diingatkan agar selalu:
1. Merasa susah, sedih dan menyesal apabila sampai tertinggal (teledor) ibadah.
2. Bersemangat untuk menutupi (mengkodllo') ibadah yang telah ditinggalkan

Memohon kepada Allah SWT, supaya diberi semangat beribadah, sebab apapun dan bagaimanapun usaha dan niat kita apabila tidak diberi Allah SWT. maka hal itu tidak akan pernah terjadi.

Membangun Semangat Pembelajar

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.

Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi’i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.

Imam Syafi’i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur’an pada usia 9 tahun. Imam Syafi’i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.

Pada usia 15 tahun Imam Syafi’i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi’i. Imam Syafi’i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4]

Membangun kepribadian Islami


Tentang ku

Semoga Kita ada dalam lindungan Allah Swt