Selasa, 06 Oktober 2009

Idealisme Guru dan Pembangunan Peradaban Bangsa



bahwa tidak semua reformasi, revolusi dan perubahan sosial secara otomatis dapat berjalan dengan mulus dan senantiasa menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Sebagai contoh, Revolusi perancis yang terjadi tahun 1787, memerlukan waktu 13 tahun untuk mencapai kondisi politik yang stabil. Majelis Nasional pasca revolusi yang dibentuk pada 1789 masih diwarnai oleh orang-orang yang tidak membawa aspirasi perubahan dan 43 % terdiri dari pejabat-pejabat yang bisa disuap.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, ternyata juga bukanlah sebuah jaminan bahwa manusia Indonesia akan selamanya terbebas dari penindasan dan keterbelakangan. Karena ternyata, kezaliman dan kesewenang-wenangan bukan cuma watak khas dari imperialisme Belanda, Portugis, Jepang atau Inggris saja. Akan tetapi, ia adalah watak dasar dari semua orang yang hatinya tidak tergantung pada nilai-nilai moral, keimanan, dan keadilan. Sejak tahun 1950-an, ternyata kita telah mengalami tindakan represif dari dua periode rezim otoriter yang kontroversi, yakni orde lama dan orde baru. Padahal, kedua rezim itu tumbuh sebagai hasil sebuah gerakan yang pada dasarnya bercita-cita menegakkan kemerdekaan sebagai hak asasi manusia dan memajukan peradaban bangsa Indonesia.

Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan.


Nelson Black dalam bukunya yang berjudul "Kapan Sebuah Bangsa Akan Mati" menyatakan bahwa nilai-nilai akhlak, kemanusiaan, kemakmuran ekonomi, dan kekuatan budaya merupakan sederet faktor keunggulan sebuah masyarakat yang humanis. Sebaliknya, kebejatan sosial dan budaya merupakan faktor penyebab kemunduran sebuah peradaban. Ia juga menulis, “Kebejatan sosial akan tampak pada pengingkaran atas konstitusi dan instabiltas ekonomi.”

Edward Gibbon menilai bahwa kebobrokan moral adalah penyebab dari kehancuran sebuah peradaban. Gibbon menulis, “Menyerahnya para pejabat di hadapan penyelewengan budaya dan penyalahgunaan kekuasaan, telah menyebabkan sebuah bangsa harus takluk di hadapan bangsa lain.”

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya membangun budaya dan peradaban bangsa. Oleh karena itu, UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan membuat orang jadi beradab. Pendidikan juga merupakan kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial. Karena itulah, pendidikan yang progresif menyerukan penataan kembali masyarakat dan bangsa lewat pendidikan. Dengan pendidikan, reformasi (terutama reformasi pendidikan budi pekerti) dapat dijalankan. Begitu juga halnya dengan reformasi moralitas (agama), reformasi kebudayaan (keindonesiaan), reformasi nasionalisme (NKRI).

Reformasi budaya merupakan bagian-bagian kecil dari proses transfomasi budaya dalam suatu rentang sejarah panjang sebuah peradaban (Sachari dan Sunarya, 1998:1). Reformasi dapat diartikan sebuah gerakan untuk mengubah tatanan yang mengandung pemahaman sebagai perubahan bertahap, pembaruan, penataan kembali, penggantian cara, penyatuan kembali, dan perbaikan tatanan yang rusak. Seluruh perangkat budaya termasuk pendidikan, hakikatnya mengalami proses perubahan terus-menerus (evolusi), reformasi, diferensiasi, adaptasi, yang diciptakan dalam keadaan berubah terus. Pendidikan termasuk perubahan yang tak penah berakhir.

Pada Kongres Pendidikan se-Indonesia yang digelar di Yogyakarta bulan Oktober 1949, almarhum Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa mengatakan bahwa "Hidup haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya dan persatuan, dan kita seharusnya tidak menolak elemen-elemen yang datang dari peradaban asing. Ini adalah demi mendorong proses pertumbuhan dan pemerkayaan yang lebih lanjut bagi kehidupan nasional, dan secara mutlak untuk menaikkan kebanggaan bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan negara, yaitu mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang pada akhirnya akan sangat mempengaruhi kesejahteraan umum dan pelaksanaan ketertiban dunia serta berkompetisi dalam percaturan global.

Namun, sampai dengan tahun 2004 pelayanan pendidikan belum dapat sepenuhnya disediakan dan dijangkau oleh seluruh warga negara. Masih banyaknya penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan merupakan salah satu kendala utama terbatasnya partisipasi pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini, bahwa pendidikan harus menjadi prioritas strategis dalam kebijakan pembangunan nasional. Pendidikan harus dijadikan landasan dan paradigma utama dalam mempercepat pembangunan bangsa. Maka, dalam pengembangan kebijakan bidang pendidikan, pemerintah tidak bisa melakukannya dengan pasif, statis dan sebagai rutininitas belaka, yang tidak memiliki orientasi jelas. Tetapi, pembangunan pendidikan harus dilakukan secara dinamis, konstruktif dan dilandasi semangat reformis, kreatif, inovatif dengan wawasan jauh ke depan.

Pembangunan sektor pendidikan haruslah menghasilkan sistem nilai yang mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan aman. Karena, Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 mengamanatkan tiga misi pembangunan nasional, yaitu: 1) Mewujudkan Negara Indonesia yang aman dan damai, 2) Mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis, dan 3) Mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera.

Untuk mewujudkan misi pembangunan tersebut, masyarakat terdidiklah yang akan mudah didorong dan mau diajak berubah untuk mengembangkan sistem kehidupan yang aman, damai, adil, demokratis, dan sejahtera. Pendidikan akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Pemerintah telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005 – 2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan; dan meningkatnya tata kepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Karena itu, kebijakan pendidikan nasional harus mampu menghadirkan pemerataan pendidikan yang bermutu pada setiap sisinya. Dalam konteks outcome, pendidikan nasional harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akhlak mulia secara seimbang.

Pembangunan pendidikan hendaknya dapat membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagai subyek yang bermutu. Membangun manusia seutuhnya berarti mengembangkan seluruh potensi manusia melalui keseimbangan olah hati, olah pikir, olah rasa, olah raga, dan olah jiwa yang dilakukan seiring dengan pembangunan peradaban bangsa.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pendidikan nasional harus berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana peran dan idealisme guru dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut? Apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kinerja dan profesinya sebagai pendidik? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan dan nasib masa depan guru ditengah tuntutan dan himpitan ekonomi?

Idealisme Guru dalam Membangun Peradaban Bangsa

Dalam upaya membangun peradaban bangsa, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan nasional adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, saat ini pendidikan Indonesia sudah jauh tertinggal dari negara-negara tetangga sesama ASEAN sekalipun.

Indeks Pembangunan Manusia menunjukkan peringkat Indonesia yang mengalami penurunan sejak 1995, yaitu peringkat ke-104 pada tahun 1995, ke-109 pada tahun 2000, ke-110 pada tahun 2002, ke 112 pada tahun 2003, dan sedikit membaik pada peringkat ke-111 pada tahun 2004 dan peringkat ke-110 pada tahun 2005. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah dituntut lebih serius lagi menangani masalah pendidikan.

Sebenarnya, ada beberapa persoalan kuantitatif pendidikan yang perlu segera ditangani secara bertahap dan tersistem (Suyanto, 2004).

Pertama, rendahnya partisipasi pendidikan. Jumlah penduduk usia prasekolah (5 - 6 tahun) adalah 8.259.200 yang baru tertampung 1.845.983 anak (22, 35%). Penduduk usia sekolah dasar (7 - 12 tahun) 25.525.000, baru tertampung 24.041.707 anak (94.19%). Jumlah usia SMP (13-15 tahun) 12.831.200, baru tertampung 7.630.760 anak (59,47%). Penduduk usia SMA (16 - 18 tahun) 12.695.800, baru tertampung 4.818.575 anak (37,95%). Penduduk usia pendidikan tinggi (19 - 24 tahun) 24.738.600, baru tertampung 3.441.429 orang (13,91%).

Kedua, banyaknya guru/dosen yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi. Guru TK sebanyak 137.069, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 12.929 orang (9,43%). Sebanyak 1.234.927 guru SD yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 625.710 orang (50,67%), sedangkan 466.748 guru SMP, yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 299.105 orang (64,08). Guru sekolah menengah (377. 673), yang terbilang layak baru 238.028 orang (63,02%), sedangkan dosen perguruan tinggi (210.210), yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya baru 101.875 orang (48,46%).

Ketiga, tingginya angka putus sekolah. Angka putus sekolah SD 2,97%, SMP 2,42%, SMA 3,06%, dan PT 5,9%.

Keempat, banyak ruang kelas yang tidak layak untuk proses belajar. Ruang kelas TK yang jumlahnya 93.629, yang kondisinya masih baik 77.399 (82,67%), kelas SD (865.258), yang masih baik hanya 364.440 (42,12%). Ruang kelas SMP (187.480), yang masih baik 154.283 (82,29 %). Ruang kelas SMA (124.417) yang kondisinya masih baik 115.794 (93,07%).

Kelima, tingginya jumlah warga negara yang masih buta huruf. Dari penduduk total 211.063.000, yang masih buta huruf pada usia 15 tahun ke atas 23.199.823 (10,99%).
Terlepas dari persoalan kuantitatif tersebut, dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, guru merupakan pemegang peran yang amat sentral dalam proses pendidikan. Karena itu, upaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan para pendidik adalah suatu keniscayaan. Guru harus mendapatkan program-program pelatihan secara tersistem agar tetap memiliki profesionalisme yang tinggi dan siap melakukan adopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang layak atas pengabdian dan jasanya. Sehingga, setiap inovasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan dapat diterima dan dijalaninya dengan baik.

Di sinilah kemudian guru dituntut memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik. Kualitas seorang guru dapat diukur dari segi moralitas, bijaksana, sabar dan menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak mudah frustasi, depresi atau stress secara positif, dan tidak destruktif.

Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik. Dia tidak hanya dituntut mampu melakukan transformasi seperangkat ilmu pengetahuan kepada peserta didik (cognitive domain) dan aspek keterampilan (pysicomotoric domain), akan tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk mengejewantahkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (affective domain).

Mahdi Ghulsyani seorang cendekiawan muslim memandang bahwa guru merupakan kelompok manusia yang memiliki fakultas penalaran, ketaqwaan dan pengetahuan. Ia memiliki karakteristik: bermoral, mendengarkan kebenaran, mampu menjauhi kepalsuan ilusi, menyembah Tuhan, bijaksana, menyadari dan mengambil pengalaman-pengalaman.

Dalam pepatah jawa, guru adalah sosok yang digugu omongane lan ditiru kelakoane (dipercaya ucapannya dan dipanut tindakannya). Pesan ini mengandung makna bahwa "guru itu perkataannya selalu diperhatikan dan perbuatannya selalu menjadi teladan". Menyandang profesi guru, berarti harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya. Ia tidak hanya mengajar di depan kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi siswa-siswanya.
Kondisi saat ini, menuntut guru agar menjadi salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan. Karena, keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar-mengajar. Tugas utama guru sebagai pendidik harus diarahkan untuk membekali peserta didik dengan nilai-nilai akhlak, keimanan, dan pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zamannya agar menjadi generasi masa depan yang menjadi harapan bangsanya.

Namun demikian, posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional mengajar dan tingkat kesejahteraannya. Karena itu,Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mudah-mudahan menjadi landasan dan tonggak penting dalam peningkatan idealisme kita untuk membangun peradaban bangsa melalui pendidikan nasional. Kita berharap, profesi sebagai guru menjadi benar-benar mulia dan bermartabat. Guru tidak lagi dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi, jasa-jasa guru betul-betul diperhatikan dan dihargai dengan layak dan manusiawi.

Akhirnya, marilah kita jadikan momentum sekarang ini sebagai pembangkit kembali idealisme guru dalam membangun peradaban bangsa Indonesia. Sehingga, masa depan Indonesia bisa lebih maju, berkualitas, berbudaya, cerdas, dan dapat bersaing dalam percaturan dunia. Para guru harus menjadi lokomotif utama bagi perubahan karakter, keunggulan SDM dan modernisasi bangsa Indonesia.

Dengan dideklarasikannya Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI), kita berharap PGSI beserta anggotanya mampu melahirkan guru yang berkualitas dan mampu memaksimalkan peran guru dalam membangun peradaban bangsa melalui pendidikan. Pembangunan peradaban bangsa yang dilakukan oleh para guru yang tergabung dalam wadah PGSI ini harus didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang berfungsi sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal.

Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis. Para guru dituntut melakukan proses sistematis dalam upaya meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer tersebut berkembang optimal.

Diantara nilai-nilai unggul yang perlu dimiliki dan diperhatikan dari karakter guru yang diharapkan untuk membangun sebuah peradaban bangsa adalah: Beriman, Amanah, Profesional, Antusias dan Bermotivasi Tinggi, Bertanggung Jawab, Kreatif, Disiplin, Peduli, Pembelajar Sepanjang Hayat, Visioner dan Berwawasan, Menjadi Teladan, Memotivasi (Motivating), Mengilhami (Inspiring), Memberdayakan (Empowering), Membudayakan (Culture-forming), Produktif (Efektif dan Efisien), Responsif dan Aspiratif, Antisipatif dan Inovatif, Demokratis, Berkeadilan, dan Inklusif.

Mudah-mudahan nilai-nilai luhur tersebut menjadi landasan idealisme guru untuk membangun peradaban bangsa. Selamat atas terbentuknya Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI). Semoga ALLAH SWT selalu memberkati dan membimbing kita dalam menjalankan amanah mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.
Amin.

Disampaikan pada Deklarasi Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Asrama Haji Sukolilo Surabaya, 10 September 2006

Senin, 05 Oktober 2009

Mengenali Profesionalisme Guru


Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa guru yang profesional merupakan salah satu indikator penting dari sekolah berkualitas. Guru yang profesional akan sangat membantu proses pencapaian visi misi sekolah. Mengingat strategisnya peran yang dimiliki oleh seorang guru, usaha-usaha untuk mengenali dan mengembangkan profesionalisme guru menjadi sangat penting untuk dilakukan.

INTASC, sebuah organisasi yang didirikan sebagai respon terhadap meningkatnya kesadaran tentang pentingnya pengetahuan profesionalisme dalam pengajaran dan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru-guru pemula, mengembangkan 10 prinsip penting profesionalisme guru, yaitu:

1. Penguasaan terhadap mata pelajaran yang diampu. Seorang guru seharusnya memahami konsep-konsep dasar, instrumen-instrumen untuk menguji, dan struktur-struktur dari mata pelajaran yang diajarkan, serta dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membuat seluruh aspek mata pelajaran menjadi bermakna bagi para muridnya.

2. Penguasaan terhadap belajar dan perkembangan manusia. Para guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang, dan dapat menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang mendukung perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual mereka.

3. Penguasaan strategi pengajaran. Para guru memahami dan menggunakan strategi pengajaran yang bervariasi untuk mendorong perkembangan berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan keterampilan-keterampilan penting murid-muridnya.

4. Adaptasi strategi pengajaran. Para guru memahami bagaimana para siswa berbeda dalam pendekatan-pendekatannya ketika belajar sehingga mereka menciptakan strategi-strategi pengajaran yang sesuai dengan keragaman siswanya.

5. Motivasi dan manajemen. Para guru menggunakan pemahaman perilaku dan motivasi individu maupun kelompok untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan yang aktif dalam belajar, dan motivasi diri.

6. Keterampilan komunikasi. Para guru menggunakan komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mengembangkan penyelidikan, kolaborasi, dan interaksi yang saling mendukung di dalam kelas.

7. Perencanaan. Para guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan mereka tentang mata pelajaran, murid, komunitas, dan tujuan-tujuan kurikulum.

8. Asesmen. Para guru memahami dan menggunakan strategi-strategi asesmen yang formal maupun informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual para murid.

9. Komitmen. Guru adalah seorang praktisi yang selalu merefleksikan dan mengevaluasi secara terus menerus pengaruh-pengaruh dari pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya terhadap orang lain (murid, orangtua, dan profesional lain dalam komunitas pembelajaran), dan selalu aktif mencari kesempatan-kesempatan menumbuhkan profesionalismenya.

Kemitraan. Para guru mengembangkan hubungan-hubungan dengan rekan profesi, orangtua, dan pihak-pihak lain dalam komunitas yang lebih luas untuk mendukung belajar dan kesejahteraan murid-muridnya.


Profesionalisme Guru


Pendahuluan
Permasalahan belajar sebenarnya memiliki kandungan substansi yang “misterius’. Berbagai macam teori belajar telah ditawarkan para pakar pendidikan dengan belahar dapat ditempuh secara efektif dan efisien, dengan implikasi waktu cepat dan hasilnya banyak. Namun, sampai saat ini belum ada satupun teori yang dapat menawarkan strategi belajar secara tuntas. Masih banyak persoalan-persoalan belajar yang belum tersentuh oleh teori-teori tersebut.
Kompleksitas persoalan yang terkait dengan belajar inilah yang menjadi penyebab sulitnya menuntaskan strategi belajar. Ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan dalam belajar, baik yang bersifat internal maupun yang eksternal. Diantara sekian banyak faktor eksternal terdapat guru yang sangat berpengaruh terhadap siswa. Sukses tidaknya para siswa dalam belajar di sekolah, sebagai penyebab tergantung pada guru. Ketika berada di rumah, para siswa berada dalam tanggung jawab orang tua, tetapi di sekolah tanggung jawab itu diambil oleh guru. Sementara itu, masyarakat menaruh harapan yang besar agar anak-anak mengalami perubahan-perubahan positif-konstruktif akibat mereka berinteraksi dengan guru.


Harapan ini menjadi suatu yang niscaya terutama ketika dikaitkan dengan mutu pendidikan. Pembahasan mutu pendidikan betapapun akan terfokuskan pada input- proses-output. Input terkait dengan masyarakat sebagai “pemasok”sedangkan outuput terakait dengan masyarakat sebagai pengguna. Adapun proses terkait dengan guru sebagai pembimbing. Dataran proses inilah yang paling determinan dalam mewujudkan sitasi pembelajaran di sekolah baik yang membelenggu, atau sebaliknya membebaskan, membangkitkan dan menyadarkan.

Proses Pembelajaran yang Membelenggu
Ada ungkapan yang menarik dari Emille Durkheim. Dia melukiskan dua fungsi pendidikan yang saling bertentangan yaitu pendidikan sebagai pembelenggu dan pendidikan sebagai pembebas individu1. Letak daya tarik dari pernyataan ini terdapat pada fungsi pendidikan sebagai pembelenggu. Selama ini kebanyakan masyarakat hanya memahami fungsi pendidikan sebagai pembebas individu. Ternyata pendidikan bisa berfungsi sebaliknya,s ebagai pembelenggu. Hal ini memberi pemahaman berikutnya bahwa penddikan bisa juga “berbahaya”bagi kemandirian, kreativitas dan kebebasan siswa sebagai individu.
Dalam kaitannya dengan fungsi negatif yakni pendidikan sebagai pembelenggu ini agaknya dapat dilacak dari model-model pembelajaran yang dilaksanakan guru di dalam kelas. Jika kita adakan evaluasi, di kalanga kita sendiri memam\ng terdapat gejala-gejala perilaku guru dalam pembelajaran di kelas yang tidak kondusif mengakibatkan daya kritis siswa, bahkan dalam batas-batas tertentu membaayakan masa depan siswa seperti sikap guru yang sinis terhadap jawaban yang salah.
Dalam suatu kelas tidak jarang guru melempar suatu pertanyaan yang harus dijawab siswa. Ada seorang siswa yang berani menjawab pertanyaan dengan penuh keyakinan dan harapan mendapat simpati guru. Apa yang terjadi justru di luar dugaan dengan jawaban itu teman-temannya di sekitar tertawa sedang guru mengatakan, “tidak, itu salah. Saya heran melihatmu”2. Kasus ini menurut Bobbi Deporter and Mike Hernacki, adalah awal terbentuknya citra negatif diri. Sejak saat itu belajar menjadi tugas sangat berat. Keraguan tumbuh dalam dirinya, dan dia mulai menguragi resiko sedikit demi sedikit3. Sebab dia merasa malu dan dipermalukan dihadapan banyak anak. Kesan negatif ini terus membayangi dalam perkembangan lantaran komentar itu.
Komentar negatif selama ini seringkali diterima anak bukan saja di sekolah,melainka juga di rumah atau di lingkungan masyarakat. Pada 1982, seorang pakar masalah kepercayaan diri, Jack canfield melaporkan bahwa hasil penelitian dalam sehari setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif yang bersifat mendukung. Jadi,komentar negatif enam kali lebi banyak dari pada komentar positif4. Suasana seperti ini berbahaya bagi masa depan anak, mereka bisa merasa tegang dan terbebani ketika misalnay disuruh belajar. Dinding-dinding kelas dirasakan sebagai dinding-dinding tempat penjara.
Model pembelajaran berikutnya yang dapat membelenggu dan menindas siswa adalah sebagaimana yang Paulo Freire disebut sebagai pendidikan ”gaya bank”. Model ini menurut pengamatan Freire, menjadi sebuah kegiatan menabung: para murid sebagai celengannya sedangkan guru sebagai penbungnya..5 Ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan murid hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan.6 Semakin banyak murid yang meyimpan tabungan, semakin kurang mengembangkan kesadaran kritisnya.7
Sesungguhnya, belajar itu merupakan pekerjaan yang cukup berat, yang menuntut skap kritis sistemik (Sistemic Critical Attitude) dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan praktek langsung. Sikap kritis sama sekali tidak dapat dihasilkan melalui pendidikan yang bergaya bank(banking action) ini.8 Dalam pendidikan model ini, yang dibutuhkan buka pemahaman isi, tetapi sekedar hafal(memorization). Bukan memahami teks, tetapi hanya menghafal dan jika siswa siswa melakukannya berarti siswa telah memenuhi kewajibannya.9 Padahal hafalan hanya akan menumpuk pengetahuan dalam arti pasif, karena tanpa upaya pengembangan sama sekali sebagai yang menjadi karakternya selama ini.
Selanjutnya pembelajaran model bank ini telah menempatkan guru dan siswa dalam posisi berhadap-hadapan. Guru sebagai subyek dan siswa sebagai obyek, guru yang “menakdirkan” sedangkan siswa yang “ditakdirkan”, guru sebagai peran dan siwa sebagai yang diperankan. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan guru sebagai penindas sedang siswa sebagai tertindas. Freire setidaknya telah mengungkapkan peran yang kontras itu sebagai berikut:
- guru mengajar, murid diajar
- guru mengethui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
- guru berfikir, murid dipikirkan
- guru bercerita, murid patuh mendengarkan
- guru menentukan peraturan, murid diatur
- guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujuinya
- guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melaui perbuatan gurunya.
- guru memiliki bahan dan isi pelajaran, murid (tanoa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
- guru mencampur adukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid
- guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka10

Pengajaran model demikian ini memposisiskan guru sebagai pihak yang ”menang”sedangkan siswa sebagai pihak yang “kalah”, suatu dikootomi yang mestinya tidak layak terjadi mengingat pengajaran bukan proses perbandingan sehingga ada yang menag dan ada yang kalah. Dengan istilah lain pengajar ini terkadang disebut pengajaran model komando. Seorang komandan dalam militer posisinya selalu diatas, memegang perintah yang harus ditaati.
Pengajaran model gaya komando ini memerankan guru, yang oleh S. Nasution disebut guru yang bertipe dominatif sebagai lawan dari tipe integrative.11 Pengajaran tersebut mendapat kritik keras karena mematikan semangat demokratisasi dan kreativitas siswa, tidak menghargai siswa dan keagamaannya.12 Guru merasa memiliki wewenang apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran dan tidak boleh diganggu gugat oleh siswa maupun pihak lain, praktis, pengajaran model tersebut hanya menjadikan guru pandai sepihak sedangkan siswa tetap bodoh, pasif, kering ide atau gagasan, stagnan, tertindas dan terbelenggu.
Upaya pembelajaran yang ternyata berbalik membelenggu ini tidak lepas begiitu saja-karena akibat demikian tidak pernah disadari guru dominatif tersebut-selagi belum ada gugatan secara maksimal untuk mewujudkan pembelajaran yang benar-benar demokratis sebagai kebutuhan pendidikan secara mendesak.

Pembelajaran Demokratis
Sebagai upaya untuk keluar dari pembelajaran yang membelenggu tersebut menuju pada pembelajaran yang membebaskan dibutuhkan keterbukaan dan sikap lapang dada dari guru untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa guna mengekspresikan gagasan dan pikirannya Freirw mengatakan,” pendekatan yang membebaskan merupakan proses dimana pendidikan mengkondisikan siswa untuk mengenal dan mengungkapkan kehidupan yang senyata secara kritis.”13 Dalam pendidikan yang membebaskan ini tidak ada subjek yang membebaskan atau objek yan dibebaskan karena tidak ada dikotomi antara subjek dan objek.14 Guru dan siswa sama-sama subjek dan objek sekaligus. Keduanya dimungkinkan saling take and give (menerima dan memberi). Hanya saja jika guru sebagai pembelajar senior, maka siswa sebagai pembelajar junior,jadi tetap ada perbedaan pengalaman dan karena perbedaan inilah seihingga guru tetap lebih banyak memberi kepada siswa dari pada siswa memberi kepada guru. Tetapi pemberian guru kepada siswa itu sifatnya dorongan, rangsangan atau pancingan agar siswa berkreasi sendiri, bukan sebagai stimulus.15
Aliran ini sesungguhnya telah berpandangan progresif. Peran siswa telah dimaksimalkan jauh melebihi peran-peran tradisionalnya dalam himpitan pengajaran model gaya komando. Upaya memaksimalkan peran siswa ini sebagai bentuk riil dari misi pembebasan siswa dari keterbelengguan akibat penindasan guru. Melalui pembebasan ini, diharapkan siswa memiliki kemandirian yang tinggi dalam memberdyakan potersi yang dimiliki untuk berpendapat, bersikap dan berkreasi sendiri.
Oleh karena itu, mesti ada dialog. “ciri aksi budaya yang meperjuangkan kebebasan adalah dialog, sedangkan yang mengarah pada dominasi justru anti dialog dan mendomistifikasikan rakyat.”16 tangung jawab guru yang menempatkan diri teman dialog bagi siswa lebih besar dari pada guru yang hanya memindahkan informasi yang harus diingat siswa.17 Sebab guru sedang memupuk sikap keberanian, sikap kritis ,dan sikap toleran terhadap pandangan yang berbeda bahkan bertentangan sekalipun, melalui tradisi saling tukar pandangan dalam menyiapkan suatu masalah.
Tradisi dialogis ini sebagai salah satu bentuk suasana yang mendukung pembelajaran demokratis, yaitu suasana yang melibatkan para siswa dalam proses pembelajaran secara maksimal dengan memperhatikan sepenuhnya terhadap inisiatif, pemikiran, gagasan, ide, kreativitas, dan karya siswa. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi subjek dalam proses pembelajaran.
Mengingat pentingnya dialog ini, maka pemerintah mengamanatkan melalui Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang ditetapkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh pendidik dan tenaga kependidikan. Amanat itu terdapat pada pasal 40 ayat 2. Isi dari pasal tersebut adalah:
Pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban:
menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis.
Mempunyai komitemen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan
Memberikan teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan keprcayaan yang diberikan kepadanya.18
Seiring dengan demokrasi politik. Ada tuntutan demokrasi pendidikan dalam prakteknya berimplikasi pada demokrasi pembelajaran dengan indikasi menciptakan suasana dialogis. Dengan demikian, peranan guru dalam penyampaian pengetahuan menjadi sangat berkurang yang digantikan oleh peranan siswa yang semakin menguat. Tuntutan dialog belakangan ini sebagai suatu yang tak terelakkan lagi dalam kehidupan pendidikan demokratis, sekaligus membuktikkan adanya pergeseran posisi siswa dari posisi objek ke posisi subjek dalam berbagai kesempatan.
Demikian pula, pergantian istilah anak didik, terdidik maupun objek didik menjadi peserta didik bahkan pembelajar bukan hanya persoalan semantic, melainkan perubahan paradigma pembelajaran yang banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran pendidikan yang berorientasi pada kondisi demokratis dan emansipatoris, dengan memerankan siswa agar lebih produktif,progresif dan pro-aktif dibandingkan peran masa lampaunya. Bagaimana istilah peserta didik apalagi pembelajar akan selalu mengesankan kondisi aktif pada istilah anak didik, terdidik maupun objek didik.
Oleh karena itu, belakangan ini pengertian perencananaan untuk memberi peluang pada siswa-siswanya mengembangkan aktivitas belajar, serta mengeksplorasi berbagai pengalaman baru untuk mencapai berbagai kompetensi yang diidealkannya, dan telah menjadi kesepakatan-kesepakatan kelas bersama dengan gurunya.19 Guru tidak banyak mencampuri mengatur dan menegur pekerjaan anak, akan tetapi membiarkan bekerja menurut kemampuan dan cara masing-masing sikap in cocok dengan kuirkulum ‘student centered”.20
Selanjutnya perkembangan paling menarik terjadi sejak 25 tahun terakhir bahwa guru-guru di berbagai sekolah di Amerika melakukan transaksi kurikulum dengan para siswanya. Guru menawarkan berbagai kompetendi pada siswanya, sedang siswa memilih serta menentukan sendiri apa yang mereka pelajari dengan gurunya itu. Implikasi adalah terjadi kajian dari sesama siswa untuk menentukan berbagai bahan materi pelajaran yang akanmereka pelajari dalam masa tertentu. Inilah yang disebut sebagai curriculum as transaction and curriculum as inquiry.21
Kasus ini benar-benar menggambarkan pembelajaran demokratis lantaran melibatkan siswa dalam menentukan sendiri kompetensi maupun bahan pelajaran sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka sendiri tanpa paksaan maupun intervensi guru.keterlibatan siswaseperti ini makin mendesak untuk direalisasikan, sehingga dibutuhkan guru yang benar-benar professional.

Profesionalisme Guru
Profesionalisme menjadi taruhan ketika mengahadapi tuntutan-tuntutan pembelajaran demokratis karena tuntutan tersebut merefleksikan suatu kebutuhan yang semakin kompleks yang berasal dari siswa; tidak sekedar kemampua guru mengauasi pelajaran semata tetapi juga kemampua lainnya yang bersifat psikis, strategis dan produktif. Tuntutan demikian ini hanya bisa dijawab oleh guru yang professional
Oleh karena itu, Sudarwan Danim menegasakan bahwa tuntutan kehadiran guru yang profesional tidak pernah surut, karena dalam latar proses kemanusiaan dan pemanusiaan,ia hadir sebagai subjek paling diandalkan, yang sering kali disebu sebagai Oemar bakri.22
Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus..23 ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan professionalisme yaitu okupasi, profesi dan amatif. Terkadang membedakan antar para professional, amatir dan delitan.24 Maka para professional adalah para ahli di dalam bidangnya yang telah memperoelh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan itu.
Kemudian bagaimanakah hubungan profesional dengan kompetensi? M. Arifin menegaskan bahwa kompetensi itu bercirikan tiga kemampua profesional yang kepribadian guru, penguasa ilmu dan bahan pelajaran, dan ketrampilan mengajar yang disebut the teaching triad.26 Ini berarti antara profesi dan kompetensi memilki hubungan yang erat: profesi tanpa kompetensi akan kehilangan makna, dankopetensi tanpa profesi akan kehilanga guna.27
Untuk memahami profesi, kita harus mengenali melaui Ciri-cirnya. Adapun ciri-ciri dari suatu profesi adalah:
- memiliki suatu keahlian khusus
- merupakan suatu penggilan hidup
- memiliki teori-teori yang baku secara universal
- mengabdikan diri untuk masyarakat dan bukan untuk diri sendiri
- dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi yang aplikatif
- memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya
- mempunyai kode etik
- mempunyai klien yang jelas
- mempunyai organisasi profesin yang kuat
- mempunyai hubungan dengan profesi pada bidang-bidang yang alin.28

Ciri-ciri tersebut masih general, karena belum dikaitkan dengan bidang keahlian tertentu. Bagi profesi guru berarti ciri-ciri itu lebih spesifik lagi dalam kaitannya dengan tugas-tugas pendidikan dan pengajaran baik di dalam maupun di luar kelas.
Mengenai kompetensi, di Indonesia telah ditetapkan sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai instructional leader, yaitu: (1) memiliki kepribadian ideal sebagai guru; (2) penguasaan landasan pendidikan; (3)menguasai bahan pengajaran; (4)kemampuan menyusun program pengajaran; (6) kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar; (7)kemampuan menyelenggarakan program bimbingan; (8) kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah; (9) kemampuan bekerja sama dengan teman sejawat dan masyarakat; dan (10) kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.29
Dengan begitu, tugas guru menjadi lebih luas lagi dari pada proses mentransmisikan pengetahuan, membangun afeksi, dan mengembangkan fungis psikomotorik,karena di dalamnya terkandung finsi-funsi produksi.30 Guru yang mogok mengajar apapun alasannya merupakan counter productive proses pendidikan dan pembelajaran yang bermisi kemanusiaan universal itu.31 dari sisi etika keguruan juga tidak layak terjadi sebab figu guru menjadi panutan di kalangan masyarakat setidaknya bagi para siswanya sendiri. Disini predikat guru sebagai pendidikitu berkonotasi dengan tindakan-tindakan yang senantiasa memberi contoh yang baik dalam semua perilakunya.
Sebagai pendidik, guru harus professional sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Sitem Pendiidkan Nasional bab IX pasal 39 ayat 2:
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabidaian kepada mayarakat, terutama bagi pendidikan pada pergurua tinggi.32
Ketentuan ini mencakup tipe macam kegiatan yang harus dilaksanakan oeh guru yaitu pengajaran, penelitan, dan pengabdian masyarakat. Beban ini tidak ada bedanya denganbebabn bagi dosen. Tiga macam kegiatan tersebut secara hierarchy melambangkan tiga upaya berjenjang dan meluas gerakannya. Pengajaran melambangkan pelaksanaan tugas rutin, penelitian melambangkan upaya pengembangan profesi, sedang pengabdian melambangkan pemberian kontribusi sosial kepada masyarakat akibat prestasi yang dicapai tersebut.
Dari ketiga kegiatan tersebut, terutama penelitian menuntut sikap gurui dinamis sebagai seorang professional. ‘seorang profesional adalah seorang yang terus meneur berkembang atau trainable.33 Untuk mewujudkan keadaan dinamis ini pendidikan guru harus mampu membeklai kemampuan kreativitas, rasionalitas, ketrlatihan memecahkan masalah , dan kematangan emosionalnya.34 Semua bekal ini dimaksudkan mewujudkan guru yang berkualitas sebagai tenaga profesional yang sukses dalam menjalankan tugasnya.
Keberhasilan guru dapat ditinjau dari dua segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, guru berhasil bila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, juga dari gairah dan semangat mengajarnya serta adanya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, guru berhasil bila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku pada sebagian besar peserta didik ke arah yang lebih baik.35 Sebaliknya,dari sisi siswa, belajar akan berhasil bila memenuhi dua persyaratan: (1) belajar merupakan sebuah kebutuhan siswa, dan (2)ada kesiapan untuk belajar, yakni kesiapan memperoleh pengalaman-pengalaman baru baik pengetahuan maupun ketrampilan.36
Hal ini merupakan gerakan dua arah, yaitu gerakan profesional dari guru dan gerakan emosional dari siswa. Apabila yang bergerak hanya satu pihak tentu tidak akan berhasil, yang dalam istilah sehari-hari disebut bertepuk sebelah tangan. Sehebat-hebatnya potensi guru selagi tidak direspons positif oleh siswa, pasti tidak berarti apa-apa. Jadi gerakan dua arah dalam mensukseskan pembelajaran antara guru dan siswa itu sebagai gerakan sinergis.
Bagi guru yang profesional, dia harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Gilbert H. Hunt menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria:
- sifat positif dalam membimbing siswa
- pengetahuan yang mamadai dalam mata pelajaran yang dibina
- mampu menyampaikan materi pelajaran secara lengkap
- mampu menguasai metodologi pembelajaran
- mampu memberikan harapan riil terhadap siswa
- mampu merekasi kebutuhan siswa
- mampu menguasi manajemen kelas37

Disamping itu ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus bagi guru yang profesional yaitu kondisi nyaman lingkungan belajar yang baik secara fisik maupun psikis. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 40 ayat 2 bagian 2 di muka menyebut dengan istilah menyenangkan. Demikia juga E. Mulyasa menegaskan, bahwa tugas guru yang paling utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga timbul minat dan nafsunya untuk belajar38. Adapun Bobbi Deporter dan Mike Hernachi menyarankan agar memasukkan musik dan estetika dalam pengalama belajar siswa39. karena musik berhubungan dan mempengaruhi kondisi fisiologis siswa40 ayng diiringi musik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi.41 dalam situasi otak kiri sedang bekerja, masuk akan membangkitkan reaksi otak kanan yang intuitif dan kreatif sehingga masukannya dapat dipadukan dengan keseluruhan proses42.
Terkait dengan suasana yang nyaman ini, perlu dipikirkan oleh guru yang profesional yaitu menciptakan situasi pembelajaran yang bisa menumbuhkan kesan hiburan. Mungkin semua siswa menyukai hiburan, tetapi mayoritas mereka jenuh dengan belajar. Bagi mereka belajar adalah membosankan, menjenuhkan, dan di dalam kelas seperti di dalam penjara. Dari evaluasi yang didasarkan pada pengamatan ini, maka sangat dibutuhkan adanya proses pembelajaran yang bernuansa menghibur. Nuansa pembelajaran ini menjadi “pekerjaan rumah”bagi para guru khususnya guru yang profesional.

Kesimpulan
Selama ini model pembelajaran dalam pendidikan masih seperti ungkapan paul Freire, pendidikan”gaya bank” yang bersifat penindasan pada siswa. Keadaan ini harus diubah menjadi pendidikan (Pembelajaran) yang demokratis yang membawa misi pembebasan bagi mereka. Untuk mewujudkan model pendidikan yang emansipatoris itu dibutuhkan guru yang profesional.
Profesional guru tercermin dalam berbagai keahlian yang dibutuhkan pembelajaran baik terkaut dengan bidang keilmuan yang diajarkan,”kepribadian”, metodologi, pembelajaran, maupun psikologi belajar.


DAFTAR RUJUKAN

Pernyataan Ahli Sosiologi ini dikutip Sodiq. A Kuntoro, Dimensi Manusia dalam Pemikiran Indonesia, Yogyakarta: CV Bur Cahaya, 1985)H. 34
Bobbi Deporter dan Mieke Hernachi, Quantum Learning Membiasakan BelajarNyaman dan Menyenangkan,(Bandung:Kaifa, 2002) H.24
Paulo Freire, Politik Pendidikan dan Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Yogyakarta: Kerjasama Pustaka Pelajar dengan ead, 2002) H.28
Freire, Pendidikan, Hh 51-52
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), H.116
Mska Masstlon,Tracking from Command to Discovery, (California; Wadsworth Publishing Company, 1972), H.43
Donald P. Kauchos\ck And Paul D. Eggen , Learning And Teaching Research Basid Methods,(Baston: Allya And Baron, 1998), P.6
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Ttp: Pustaka Widyatama, Tt), P.6
Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan DemokratisSebuah Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidika, (Jakarta: Prenada Media, 2004), H. 92
Nasution, Sosiologi, H. 116
Jerry Aldridge And Renetta Soldman, Current Issues And Trends In Education, (Boston, USA: Allya And Baron, 2002), H. 77
Sudarwan Danim,Agenda Pemabruan Sistem Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), H. 191-192
M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan(Islam dan Umum),(Jakarta: Bumi Aksara, 1991). H. 105
H. A. R. Tilaar, Paradigma Baru PendidikanNasional, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), H. 137
Ibid
Djohar, Pendidikan Strategik Alternatif Untuk Pendidikan Masa Depan ,(Yogyakarta:LESFI, 2003), H.
E. Mulwoso, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsp, Karakteristik dan Implementas, (Bandug: PT Remaja Rosdakarya,2002) H.187
S.K Kockar, Methods And Technique of Teaching, Delhi India: Sterling Publisher, 1967), P. 28
Gilbert H. Hunt, Et Al. efectie Teaching, Preparation And Implementation, Illnois: Charless C. Thomas Publiesher, 1999), P. 15-16
Mulyoso, Kurikulum,H. 188



Jumat, 02 Oktober 2009

Tip & Trik Wawancara Efektif


Wawancara adalah penilaian yang paling subyektif dan sulit ditebak lulus tidaknya. Seringkali kita yakin lulus, ternyata tidak lulus. Banyak faktor yang memengaruhi lulus tidaknya kita dari sebuah wawancara. Salah satunya adalah etika atau sopan santun pada saat wawancara berlangsung. Kita sering lupa bahwa kepintaran tidaklah cukup untuk menjadi PNS yang baik, tetapi juga memerlukan integritas moral dan etika yang tercermin saat wawancara berlangsung. Berikut ini beberapa tips saat mengikuti ujian wawancara:

1. Berpakaian dan Penampilan Rapih

kesan pertama sangat menentukan pada saat wawancara akan berlangsung. Begitu Anda masuk ke ruangan pewawancara, yang pertama terlihat adalah cara berpakaian dan penampilan Anda. Memang tidak ada aturan baku baik cara berpakaian maupun berpenampilan, akan tetapi ada baiknya pada saat wawancara berlangsung, gunakan pakaian rapih, kemeja berkerah dan lengan panjang/pendek, celana katun warna gelap, serta memakai wewangian yang tidak menyengat, dan bersepatu dan kaos kaki hitam/warna gelap. Jangan lupa rapikan rambut agar terlihat sesuai dengan tubuh Anda.

2. Bersikap sopan dan ramah

Melihat kondisi anak muda sekarang, saya cukup sedih melihat sopan santun dan rasa hormat yang mulai luntur. Oleh karena itu jangan kaget kalo Anda merasa pintar, tapi tidak lulus seleksi wawancara. Bisa jadi karena sikap Anda yang kurang sopan atau tidak bersikap ramah terhadap si pewawancara.

Saat pertama masuk ke ruangan, sapalah pewawancara dan dahulukan berjabat tangan. Kemudian jawablah setiap pertanyaan dengan sopan dan ramah, serta gunakan bahasa Indonesia baku. Hindari debat kusir atau ucapan yang dapat membuat pewawancara tersinggung apabila terjadi perbedaan pendapat dengan pewawancara, lebih baik gunakanlah kalimat “….., itu menurut yang saya ketahui/pahami/kenali. Mohon maaf, mungkin saya salah atau belum mengetahui yang sebenarnya.” Merendahkan diri sedikit, tetapi meninggikan mutu. Sering-seringlah menggunakan kalimat ‘mohon maaf’ apabila ada sesuatu yang belum jelas atau ditengarai dapat menimbulkan perdebatan.

3. Perhatikan mood pewawancara

Pewawancara juga manusia, artinya bisa senang dan juga bisa marah. Oleh karena itu sebelum melangkah lebih jauh, perhatikan dulu mood pewawancara. Kalau sedang dalam keadaan senang, bolehlah kita selingi jawaban kita dengan sedikit bercanda, atau bertanya balik. Sebaliknya kalau lagi bad mood, sebaiknya jawab seperlunya dan hindari bertanya balik.

4. Cara Menjawab Pertanyaan

Jawablah pertanyaan dengan sederhana, singkat, padat, dan jelas, serta menjurus atau fokus kepada jawaban pertanyaan. Tidak perlu bercerita panjang lebar dan menjadi tidak jelas alurnya, sehingga membuat pewawancara menjadi bosan dan tidak tertarik untuk mendengarkan. Berilah penjelasan seperlunya, dengan tetap memperhatikan sopan santun dan tata bahasa yang baku. Hindari penggunaan bahasa prokem atau bahasa gaul sehari-hari, walaupun mungkin pewawancara mencoba memancing Anda dengan bahasa2 tersebut.

5. Datang tampak muka, pulang tampak punggung

berilah salam ketika datang, begitu pula ketika selesai wawancara. Sekali lagi, bersikaplah santun ketika hendak memulai dan mengakhiri wawancara. Jangan bersikap semaunya sendiri, kecuali kalau memang Anda tidak ingin lulus wawancara.

Tips di atas hanyalah sebagai panduan saja, tidak menjamin kelulusan tes wawancara, namun paling tidak dapat membantu menambah nilai yang dapat memuluskan jalan Anda menjadi CPNS. Semoga bermanfaat.



Mengurus Kartu Kuning dan SKCK


Syarat untuk mengurus Kartu Kuning:

1. KTP dan fotokopinya

2. Fotokopi Ijazah dan Transkrip nilai yang telah dilegalisir, jangan lupa bawa ijazah dan transkrip asli, siapa tahu diminta untuk diperlihatkan

3. Pas Foto 3×4

Tempat mengurus:

Dinas Tenaga Kerja di tiap-tiap kabupaten/kota sesuai dengan domisili KTP. Misal: untuk KTP Kota Bekasi, mengurusnya di Kantor Walikota Bekasi, Dinas Tenaga Kerja, Jl. A.Yani No.1 Bekasi.

Biaya:

resminya sih gratis, tapi gak ada salahnya beramal untuk yang mengurusnya, sekitar Rp. 10.000 – 50.000 lah

Syarat Mengurus SKCK
Syarat:

1. KTP asli (diperlihatkan) dan fotokopinya, serta

2. Surat pengantar dari RT/RW yang dilanjutkan dengan surat keterangan oleh Kelurahan dan disahkan di Kecamatan

3. Pas Foto 4×6 2 lembar

Tempat Mengurus:

1. Polsek (Kepolisian Sektor, setingkat Kecamatan) sesuai dengan domisili KTP

2. Polres (Kepolisian Resor, setingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan domisili KTP

Namun demikian demi kenyamanan dalam melamar jadi PNS, sebaiknya mengurus di tingkat Polres, karena kedudukannya lebih kuat daripada Polsek, di samping itu beberapa instansi cenderung mensyaratkan SKCK di tingkat Polres.

Biaya

Kurang lebih Rp. 10.000 – 20.000 untuk biaya administrasi dan Rp. 15.000 – 20.000 untuk cap jempol, tergantung kebijakan di masing-masing Polsek/Polres.

Kamis, 01 Oktober 2009

Karena Idul Fitri Begitu Berarti


Bulan Ramadhan yang penuh ampunan telah berlalu, menyisakan kerinduan sekaligus harapan untuk bisa kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang. Dan, lebaranpun datang, menggantikan Ramadhan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi kaum muslimin dan muslimat yang telah menunaikan kewajiban shaumnya selama sebulan.

Ramadhan dan lebaran tahun ini, dua hal yang sarat pelajaran, kenangan sekaligus pengalaman bagi kami sekeluarga. Jika dua lebaran sebelumnya kami ‘terpaksa’ merayakannya di perantauan, maka lebaran kali ini sengaja kami ‘paksakan’ untuk bisa merayakannya di kampung halaman bersama keluarga dan handai taulan.

Banyak hal yang kami temui, mulai dari kami pertama kali menginjakan kaki kembali di kampung tercinta hingga kami kembali lagi ke perantauan. Di awal kepulangan kami di kampung halaman, meski lebaran masih kurang seminggu, rupanya persiapan keluarga dan juga tetangga untuk menyambut datangnya Idul Fitri sudah dimulai.

Pak Kasto dibantu anak dan cucunya, Udin dan Azis bersama-sama mengecat rumahnya beberapa hari menjelang Idul Fitri.
“ Kami memang sudah lama ingin mengganti warna cat dinding rumah, dan sekarang inilah waktu yang tepat, karena kami ingin merayakan lebaran dengan suasana yang baru” begitu alasan pak Kasto ketika kutanya mengapa mengganti cat rumahnya yang cukup besar dan tentunya membutuhkan biaya serta tenaga yang tidak sedikit.

Pak Ali yang belum lama mengecat rumahnya merasa tidak perlu lagi mengecat tembok rumahnya. Dia dibantu anak laki-lakinya mengeluarkan seluruh kursi dan meja untuk dijemur, sebagian malah di cuci terlebih dulu.
“ Bangku dan meja ini jarang sekali di cuci dan di jemur, saya nda enak jika nanti tamu yang bersilaturahmi ke rumah merasa tidak nyaman” begitu jawabnya ketika kami lewat di depan rumahnya.

Jika Pak Kasto bersiap-siap menyambut datangnya Idul Fitri dengan mengganti cat rumahnya, pak Ali mencuci dan menjemur meja serta bangku-bangkunnya, lain lagi yang dilakukan oleh Pak Tarjo. Sebagai pamong desa, sekaligus imam di musholla Nurul Hikmah, minggu terakhir di bulan Ramadhan kegiatannya bertambah padat, mulai dari mengkoordinir zakat di lingkungan tempat tinggalnya sampai ikut menjadi paniti zakat mal atas permintaan seorang dokter sukses di RW sebelah.

Pak Warso, lain lagi. Sebagai orang yang dikenal ‘tuan sawah’ mengerahkan puluhan tetangganya untuk membantunya memanen kacang hijaunya yang sudah siap panen. Targetnya adalah sebelum Idul Fitri tiba, semua kacang hijaunya sudah dipanen, sehingga dia bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga besarnya yang rencananya akan mudik dari Jakarta, dan tetangga yang sudah membantunya juga bisa berlebaran dengan tambahan pemasukan dari bagian yang mereka dapatkan.

Bu Sri, ibu beranak dua ini sampai dua hari menjelang lebaran masih sibuk membuat kue dan makanan kering untuk sajian saat lebaran nanti. Biasanya kalau hari lebaran, banyak saudara dan juga tetangga yang bersilaturahmi ke rumahnya, jadi meski kue dan makanan buatannya tidak seenak makanan toko, tapi paling tidak dia bisa memberikan suguhan terbaik bagi tamu-tamunya.

Lain bu Sri lain pula bu Wati. Ibu muda yang ahli membuat kue dan makanan kering ini menjelang lebaran kebanjiran order. Mulai awal puasa, pesanan terus mengalir hingga sehari sebelum lebaran dia masih mondar-mandir ke pasar membeli bahan-bahan untuk membuat kue yang akan di sajikan para pemesannya di hari lebaran esok hari.

Sebenarnya banyak lagi persiapan-persiapan yang dilakukan oleh tetangga kanan kiri kami, dan hampir semuanya memiliki alasan yang sama yaitu karena lebaran atau idul fitri begitu berarti, tak mungkin dilewatkan dengan begitu saja.

Ketika Idul Fitri yang dinanti tiba, dan segala persiapan sudah selesai dilakukan, ada kepuasan tersendiri dalam merayakan hari kemenangan yang sudah dinanti-nantikan. Segala lelah dan kesibukan, tergantikan dengan senyum sumringah dan kehangatan canda tawa bersama keluarga dan sahabat.

Idul Fitripun berlalu, dengan sejuta kesan dan kenangan yang tak mudah dilupakan. Satu persatu para pemudikpun mulai kembali ke perantauan. Termasuk kami, seminggu setelah lebaran, dengan berat hati kami harus kembali ke Tangerang, mencoba menjemput rizki yang telah Allah persiapkan. Sampai di Tangerang, bersama dengan sahabat dan tetangga yang sebagian besar juga baru kembali dari mudik, kami kembali menjalani aktifitas rutin kami. Kelelahan memang tak dapat disembunyikan, tapi keceriaan diraut wajah masing-masing jelas tak bisa di tutupi. Meski lelah, meski hasil kerja yang telah dikumpulkan berbulan-bulan harus dikeluarkan untuk keperluan selama lebaran, yang jelas semua tidaklah berarti jika dibandingkan dengan keindahan silaturahmi bersama keluarga, menikmati anugerah Idul Fitri.

Buang waktu, buang biaya dan juga tenaga! Barangkali ada yang berpikir seperti itu, terutama mereka yang tidak merayakan Idul Fitri, tapi tidak bagi kaum muslim baik yang merayakannya di tempat asal atau yang harus mudik. Bagaimanapun, nikmatnya Idul Fitri, indahnya silaturahmi, dan meriahnya lebaran tidak bisa digantikan dengan materi, dan hanya bisa dirasakan oleh kaum muslimin. Persiapan menjelang lebaran memang melelahkan. Biaya yang harus dikeluarkanpun terhitung besar. Dan tenaga yang terkuraspun tidak perlu dipertanyakan. Tapi, semua sepakat. Semua sependapat, dan semua setuju bahwa melakukan semua ini karena Idul Fitri begitu berarti.

http://abisabila.blogspot.com


IEDUL FITHRI MOMENTUM PENINGKATAN PRESTASI DAN KEIMANAN


Ditulis Oleh: Achmad Faisal

Insya Allah akan disampaikan pada Shalat Iedul Fithri 1430 H, tanggal 20 September 2009

di Halaman Super Indo, Jl. Rajawali, Bandung

Alhamdulillah, atas izin Allah SWT kita semua masih diberi kesempatan untuk merayakan hari raya kita bersama, Hari raya Iedul Fithri 1430 H. Setelah sebulan lamanya kita melaksanan ibadah shaum dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah SWT, kini saatnya kita merayakan hari kemenangan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Namun bukan hanya perayaan yang kita pikirkan di hari besar ini, melainkan juga introspeksi (muhasabah) diri. Apakah shaum kita selama sebulan ini diterima oleh Allah? Apakah shaum kita menjadi momentum kebangkitan dan perbaikan diri kita? Jawabannya ditentukan oleh aktivitas kita pasca Ramadhan. Jika pasca Ramadhan terjadi peningkatan kualitas iman dan prestasi, maka bisa dikatakan shaum kita berhasil, Namun jika pasca Ramadhan kita tidak ada bedanya dengan sebelumnya, atau bahkan lebih buruk, maka bisa dikatakan shaum kita hanya sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Apalagi bagi orang yang tidak shaum tanpa alasan yang dibenarkan oleh syar’i.

Rasulullah bersabda:


“Jatuh ke tanah hidung seseorang (Alangkah hinanya seseorang), ia memasuki bulan Ramadhan, kemudian ia lepas dari bulan Ramadhan sebelum diampuni dosa-dosanya.”


Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang hina karena Ramadhan yang kita lalui hanya numpang lewat saja, tidak ada manfaatnya sama sekali.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillaaahilhamd!


Hadirin yang dimuliakan Allah!


Jikalau kita sudah berhasil melaksanakan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan, maka alangkah baiknya jika kita lebih berhati-hati dan memperhatikan prinsip-prinsip utama dalam kehidupan, sehingga di bulan-bulan yang akan datang, kita tidak tergelincir ke jalan yang salah, sehingga ibadah shaum kitapun menjadi sia-sia. Minimal ada tiga prinsip utama yang jika kita hayati dengan benar akan membantu kita menjalani kehidupan lebih baik lagi.

I. PRINSIP MANUSIA

Motivasi manusia dalam menjalani kehidupan ini, secara umum tidak terlepas dari tiga pertanyaan mendasar. Mau Jadi apa? (Tobe) Apa Yang ingin dimiliki? (To have) Sejauh mana kemampuan yang dimiliki?(Valensi).
Pertanyaan Pertama, Motivasi manusia dalam beraktivitas biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan. Mau jadi apa saya? Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan mengakibatkan seseorang mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Walaupun ada juga orang yang tidak memiliki keinginan yang jelas tentang mau jadi apa dirinya. Biasanya orang yang seperti ini tidak mempunyai arah hidup yang jelas, tidak punya pendirian, dan selalu terombang-ambing oleh hembusan angin zaman.


Langkah awal dari kesuksesan seseorang adalah dia memiliki cita-cita atau mimpi besar. Keinginan untuk menjadi apa atau menjadi siapa bisa menjadi penuntun kemana arah yang ia tempuh. Dalam konteks keduniaan, pilihan dari keinginan itu bisa berupa jenis karier yang akan dipilihnya, serta level kualitas dirinya dalam karier yang dipilihnya . Dalam konteks spiritual, Pertanyaan ini bisa dijawab dengan apakah kita akan menjadi hamba yang biasa-biasa saja, atau hamba yang luar biasa? Atau hamba pilihan Allah? Aktivitas yang kita lakukan adalah merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Pertanyaan Kedua adalah, Apa yang ingin kita miliki? (To have) Keinginan seseorang untuk memiliki sesuatu biasanya menuntun seseorang untuk berusaha sekuat tenaga meraihnya. Sebagian dari kita mungkin menjadikan harta menjadi target utama yang ingin dimiliki. Sebagian lagi menginginkan untuk memiliki pasngan hidup serta keluarga yang baik, atau mungkin juga banyak hal-hal lain yang ingin dimilikinya. Dalam konteks spiritual, keinginan untuk memiliki biasanya berupa keinginan untuk memiliki pahala. Seberapa banyak pahala yang ingin kita miliki? karena semakin banyak pahala yang dimiliki, akan semakin banyak pula media yang akan menyelematkan seseorang dari kebinasaan, dan semakin banyak media yang akan membantunya meraih keberuntungan.

Pertanyaan Ketiga adalah Sejauhmana kemampuan yang kita miliki? (Valensi). Seseorang akan terpacu untuk memiliki keahlian di bidang tertentu yang sesuai dengan minatnya. Keahlian itu akan menjadi bekal bagi dirinya untuk meraih kesuksesan. Dalam konteks keduniaan keahlian setiap orang akan berbeda sesuai dengan profesi yang digelutinya. Dalamkonteks keagamaan, kemampuan seseorang akan dilihat dari seajuh mana kemampuannya untuk beribadah sesuai contoh rasulullah. Sejauhmana usaha dia untuk memahami praktik-praktik ibadah, sehingga pada akhirnya kita bisa melihat ada orang yang melaksnakan ibadah hanya sekedar menunaikan kewajiban belaka, namun ada juga yang dengan serius menggali dan mencari bagaimana ibadah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan dicontohkan oleh rasulullah SAW. Kemampuan sesorang untuk melaksanakan praktik ibadah dengan baik akan membuat seseorang meraih kesuksesan menjadi hamba Allah terbaik, dan mendapatkan ketenangan hidup yang luar biasa.

Dari ketiga hal di atas, keinginan untuk menjadi apa (To be) dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan (Valensi) sebaiknya menjadi target utama kita. Sementara keinginan untuk memiliki (To Have) secara otomatis akan diraih jika kedua hal tadi (To be dan valensi) dilaksanakan dengan maksimal. Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuannya untuk memilih, termasuk memilih bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Raihlah sukses jangka panjang dunia dan akhirat dengan cara memilih untuk menginggikan To be dan valensi , serta merendahkan To have. Jadilah seorang expert yang senantiasa terinspirasi untuk berilmu, bersyukur, dan bersabar, baik adalam kehidupan dunia maupun kehidupan spiritual.


II. PRINSIP ALAM

Allah SWT menciptakan alam semesta dengan hukum-hukumnya yang bersifat pasti. Hukum alam merupakan bentuk kepastian yang diciptakan oleh Allah dan diperputarkan oleh Zat Yang Maha Menguasai, yaitu Sang Khalik Allah SWT.Sebagai contoh adalah hukum gravitasi bumi. Peredaran matahari dan bulan, serta fenomena alam lainnya yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT.


“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda kekuasaan bagi orangyang berakal”. (Q.S. Ali-Imran:190)


Salah satu hukum alam yang jika kita fahami akan sangat berguna bagi penuntun aktivitas kehidupan kita adalah Hukum Kekekalan Energi.


Sebagai makhluk Tuhan, manusia terikat pada Hukum Kekekalan Energi (HKE). Semua energi yang masuk ke dalam tubuh, akan kita salurkan keluar dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun energi yang keluar dan yang masuk ke dalam tubuh kita jumlahnya sama. HKE pada manusia memiliki perbedaan dengan HKE pada makhluk lainnya. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk-makhluk lainnya. Perbedaan itu diantaranya adalah bahwa energi pada manusia bersifat kualitatif, terkait dengan baik dan buruk. Pendeknya, jika manusia mengeluarkan energi kebaikan (Epos) maka akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dan sebaliknya , jika manusia ,mengeluarkan energi kejelekan (Energi negative) maka ia akan memperoleh hasil yang negatif pula.

Energi di alam ini akan tetap seimbang sampai hari kiamat tiba. Demikian pula energi pada manusia harus seimbang. Jika seseorang mengeluarkan energi positif (kebaikan) maka ia akan mendapatkan hasil kebaikan (bisa berupa keberuntunga, kesuksesan, dll) yang seimbang dengan usaha yang dilakukannya. Demikian pula sebaliknya. Hanya saja hasil dari energi yang dikeluarkan tidak mesti langsung dirasakan pada saat tersebut. Bisa jadi sebagiannya langsung dirasakan pada saat itu, dan sebagian lagi menjadi tabungan energi yang akan dicairkan di masa depan. Kapan waktunya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Hanya yang pasti, sebelum meninggal dunia semua tabungan energi yang dimiliki oleh sesorang (baik yang positif maunpun negatif) akan dicairkan agar keseimbangan itu tetap terjaga.

Hal lain yang harus diperhatikan juga, bahwa energi yang kita keluarkan ke seseorang tidak mesti balasannya akan muncul dari orang tersebut. Oleh karena itu, janganlah berhenti menyebarkan energi positif kepada siapapun, bahkan kepada orang yang tidak tahu terima kasih sekalipun. Balasan dari kebaikan yang kita lakukan kepada seseorang bisa jadi akan didapatkan dari orang lain. Begitu juga kejahatan yang kita lakukan kepada seseorang akan mendapatkan balasan yang tidak harus dari orang tersebut.

Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah, pasti akan diketahui, dan Barangsiapa yang melakukan kejahatan sebesar biji zarrah, pasti akan diketahui.”(Q.S. Az-Zalzalah: 6-7)


Alam memiliki seperangkat hukum yang mengikat seluruh makhluk di dalamnya. Hukum kekekalan energi menjamin bahwa tidak ada energi di dunia ini yang sia-sia. Anda akan mendapatkan hasil usaha yang sama dengan jumlah usaha Anda. Perbanyaklah mengeluarkan energi positif dan jauhi energi negatif, maka Anda akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia.


“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna. Dan mereka itu di dunia tiada dirugikan”. (Q.S. Hud: 15)

III. PRINSIP TUHAN


Tuhan kita, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, satu-satunya, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Allah SWT yang menciptakan dan menguasai seluruh alam ini. Allah SWT yang mengatur alam ini bekerja sesuai dengan hukum-hukumnya. Allah SWT yang menciptakan manusia dengan segala karakteristiknya. Allah SWT memiliki 99 Nama. Dimana ke-99 nama tersebut merupakan simbol dari sifat-sifatnya. Sebagai pencipta, Allah menciptakan makhluk yang sama sekali berbeda dengan-Nya. Khusus bagi manusia, Allah memberikan keistimewaan dengan ditiupkan ruh Allah kepadanya. Keistimewaan tersebut tentu saja tidak mengakibatkan manusia menjadi sama dengan Allah SWT. Namun dibanding makhluk-mahkluk lain, manusia memiliki kelebihan dengan diberinya kemapuan untuk meneladani sifat-sifat Allah.


Allah lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy , dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan”. (Q.S. Ar-Ra’d:2)
“Maka apabila Aku menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya “.(Q.S. Al-Kahfi: 29)

Yang dimaksud dengan prinsip Tuhan adalah sebuah eksistensi dan prinsip-prinsip yang hanya dimiliki oleh Allah , dan kita sebagai makhluk-Nya harus berupaya untuk meneladaninya. Eksistensi Allah ini disebutkan dalam istilah agama dengan Nama/Sifat-sifat Allah. Dan yang pasti, Nama/Sifat Allah ini semuanya positif, tidak ada satu nama/sifat Allah yang berkonotasi negatif.


Allah memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, maka kita sebagai manusia punya kewajiban untuk menjadi penebar rasa kasih sayang dari Allah Tersebut. Jika Allah memiliki sifat Maha pengampun, maka kita berkewajiban untuk bisa memberi maaf kepada orang lain. Jika Allah memiliki sifat Maha Pemberi rizqi, maka kita sebagai hamba-Nya berkewajiban untuk banyak memberi kepada orang lain yang membuthkan.


Ketika kita menebarkan dan meneladani pancaran dari sifat-sifat Allah tersebut, maka seolah-olah kita sedang menjadi gardu bagi tersebarnya cahaya Allah di muka bumi ini. Tugas dan kewajiban kita sebagai hamba Allah, berkaitan dengan prinsip-prinsip Tuhan tersebut adalah dengan berusaha sekuat tenaga untuk mampu menjadi gardu penebar cahaya Ilahi di dunia ini. Tentu saja ketika kita mampu menjadi gardu penebar energi positif dari Allah di muka bumi, maka akan banyak keuntungan yang kita peroleh, dianataranya:


Pertama, Kita akan memperoleh kesuksesan (Harta, Tahta, Kata, Cinta) di tingkatan yang lebih baik. Ketika kita mengeluarkan energi positif (kebaikan), maka kita akan memperoleh hasil yang positif pula. Apalagi ketika kita melakukan itu dengan penuh kesadaran sebagai gardu Epos (Energi Positif) Allah SWT, maka bobot kesuksesan yang diraih akan menjadi berlipat ganda. Harta, Tahta, Kata, dan Cinta sebagai simbol kesuksesan pun akan memiliki kualitas dan bobot yang berbeda ketika kita menjadi Gardu Epos Allah SWT.


Kedua, Dengan menjadi gardu epos Allah, perjalanan hidup kita akan terjaga. Kesadaran diri sebagai gardu Epos Allah, akan membawa kita untuk berhati-hati sehingga tidak salah jalan melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan diri kita dan orang lain. Diri kita akan lebih terjaga dari perbuatan kotor, musibah, kecelakaan, dan akibat-akibat jelek lainnya.


Ketiga, Dengan menjadi gardu epos Allah, kita akan dipenuhi keberuntungan. Apabila kita senantiasa mencari dan menjadi gardu epos, maka kita akan memiliki tabungan epos yang melimpah. Oleh sebab itu hidup kita akan dipenuhi oleh berbagai keebruntungan , hidup terasa lebih ringan, bahagia, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan.
Keempat, Dengan menjadi gardu epos,kita akan mampu menembus semua keterbatasan. Kekuatan utama seorang gardu epos adalah tujuan hidupnya yang mulia. Tujuan ini lahir dari nuraninya sebagai hasil dari “percakapannya” dengan Allah SWT. Tujuan inilah yang memberinya kekuatan untuk menembus semua keterbatasan yang ada, dan memberinya kekuatan untuk menciptakan prestasi-prestasi besar.


Allaahu Akbar! Allaahu Akbar Walillaahilhamd.


Iedul Fithri 1430 H kali ini, hendaknya dijadikan momentum kebangkitan bagi kita umat Islam. Umat harus disadarkan, bahwa tantangan kehidupan semakin berat dan kompleks, serangan terhadap Islam juga semakin meluas, baik dengan cara yang halus bahkan yang kasar sekalipun. Untuk menghadapinya, maka sebaiknya umat Islam berkonsentrasi pada peningkatan prestasi diri. Tanya lagi kepada diri kita, mau jadi apa kita hidup di dunia ini, dan sudah sejauh mana kemampuan kita untuk menjalani hidup. Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan kerja keras mewujudkan cita-cita dan mimpi besar kita sambil terus meingkatkan kemampuan diri. Setelah itu, jadilah gardu-gardu penebar energi positif, penebar cahaya Ilahi dengan meneladani sifat-sifatnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap individu muslim mampu melakukan semua itu, dan individu muslim menjadi orang yang sukse sekaligus mulia di sisi Allah SWT, maka musuh-musuh Islam pun tidak akan dengan leluasa melemahkan Islam. Dan Islam akan menjadi tinggi dan tidak ada yang lebih tingi dari Islam. Dan semua itu tergantung usaha dan doa kita untuk memberi kontribusi bagi tegaknya ajaran dan cahaya Allah di muka bumi ini.
Lanjutkan kehidupan ini dengan prestasi besar, jangan menyerah, dan jangan berhenti. Seperti ungkapan mutiara dari Buya Hamka: “Berani hidup tak takut mati; Takut mati jangan hidup; Takut hidup mati saja.”

Sumber Inspirasi:


• Al-Quran dan Al-Hadits

• KUBIK Leadership Karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini

• Tasawuf Modren Karya HAMKA

• Pengalaman Hidup